Demikianlah diungkapkan Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA/Indonesia E-Commerce Association), Aulia Ersyah Marinto kepada detikFinance di Jakarta, Senin (30/10/2017).
"Pertama bicara equal dulu, adil dulu atau tidak. Kita melihat bahwa negara ini bisa meningkatkan pajaknya, tapi harus perlakuan equal. Jangan sampai hambat apa yang sedang tumbuh. Ini masukan kita saat bertemu dalam dialog dengan DJP," kata Aulia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebelum beleid (aturan pajak e-commerce) keluar, itu harus berlaku untuk semua platform. Soal barapa angka (tarif) pajaknya, itu urusan pemerintah. Yang masih jadi permasalahan kan, berapa banyak sih transaksi seperti di media sosial," imbuhnya.
Berbeda dengan e-commerce yang transaksinya bisa tercatat dengan baik, transaksi jual beli online hingga jasa iklan seperti di media sosial sulit diterawang. Pihaknya ingin, sistem perpajakan bisa adil untuk semua platform jual beli online.
"Butuh tangan pemerintah, karena mereka perusahaan OTT enggak di sini. Kalau e-commerce kan tercatat PT di sini, hanya soal waktu saja pemerintah mau diminta datanya. Tapi beda dengan misalnya Instagram, mau minta datanya belum tentu Facebook kasih. Kalau Anda tanya berapa iklan dari e-commerce bisa didapatkan, tapi kalau orang jual di medsos dia bayar iklan di Facebook, bisa enggak dapat (data) bayar iklannya berapa," ucap Aulia.
Selain itu, para pelaku e-commerce di dalam negeri sendiri relatif sudah patuh membayar pajak, dalam hal ini pajak badan yang berlaku.
Bos situs jual beli Blanja.com ini berujar, potensi pajak dari e-commerce sendiri sangat besar di masa mendatang. Bahkan Indonesia pada tahun 2020, diproyeksi akan menjadi pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara dengan nilai transaksi US$ 130 miliar.
"Kalau forecast kan di tahun 2020 itu US$ 130 miliar. Itu semua transaksi online baik jual produk ataupun jasa. Anda beli makanan dengan ojek online, beli tiket hotel dan pesawat secara online, itu kan tergolong transaksi e-commerce juga. Makanya dengan penduduk paling besar dan pengguna internetnya, kita akan jadi yang terbesar," pungkas Aulia. (idr/mkj)










































