Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 31 Okt 2017 17:24 WIB

Curhat Pedagang Pasar Wonokromo: Omzet Turun Sejak Lebaran

Michelle Alda Gunawan - detikFinance
Foto: Michelle Alda Gunawan/detikcom Foto: Michelle Alda Gunawan/detikcom
Surabaya - Pedagang di Pasar Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur mengeluh omzet mereka turun. Kondisi sudah terjadi sejak Lebaran tahun ini.

"Sangat sangat drastis (penurunan omzet), lebaran kemarin ini sudah kerasa sekali penurunan. Biasanya lebaran, sabtu, minggu ramai tapi kemarin lebaran ini kami hanya dapat 300-500 ribu per hari. Kalau dulu bisa jutaan, bahkan kalau ramai bisa 5 juta itu," ujar pemilik salah satu toko handuk, sprei, dan peralatan bayi Nur Hayati (34) kepada detikcom, Selasa (31/10/2017).

Nur mengatakan, omzet turun akibat persaingan yang semakin marak, apalagi kini bisnis online mulai populer. Selain itu, beberapa orang juga membuka toko sendiri di rumahnya, sehingga masyarakat umum tidak perlu jauh-jauh pergi ke pasar.

Pasar Wonokromo-SurabayaPasar Wonokromo-Surabaya Foto: Michelle Alda Gunawan/detikcom

"Ini omzetnya menurun karena banyaknya online shop, lalu di kampung-kampung juga sudah mulai ada yang buka toko sehingga orang-orang sudah jarang pergi ke pasar," kata Nur.

Tak hanya Nur, Milla Hariati (37) pemilik salah satu toko baju tidur di Pasar Wonokromo mengaku omzet dagangannya turun, bahkan, terkadang ia pulang dengan tangan hampa.

"Menurun drastis. Saya mulai kerasanya (penurunan omset) saat pergantian presiden. Dulu bisa 1-2 jutaan per hari, sekarang omsetnya nggak ada 500 ribu, bahkan kadang nggak laris," kata pemilik Toko Babydoll Grosir Milla Hariati (37).

Pasar Wonokromo SurabayaPasar Wonokromo Surabaya Foto: Michelle Alda Gunawan/detikcom

Milla juga menunjukkan dua toko di samping dan serong depannya yang tutup. Toko di samping Milla diduga mulai beralih ke bisnis online.

"Sekarang anak-anak sekolah sudah pada pintar jualan, buka online shop. Gara-gara banyak online shop sini jadi pada sepi, banyak toko yang tutup, contohnya toko di samping saya sama serong depan saya. Toko ini sudah benar-benar tutup (toko di serong depan) kalau ini (toko di sebelah) sudah mulai jarang buka, kayaknya sudah beralih ke online," keluh warga Wonokromo itu.

Dari pantauan detikcom, toko di samping toko Milla terdapat papan nama toko disertai dengan nomor handphone dan pin BBM penjual sedangkan toko di serong kanan toko Milla dikontrakkan.

Pasar Wonokromo SurabayaPasar Wonokromo Surabaya Foto: Michelle Alda Gunawan/detikcom

Keluhan yang sama juga disampaikan Lim Sui, pedagang kelontong di Pasar Wonokromo. Menurutnya omzet turun dalam kurun waktu 3 bulan terakhir. Biasanya ia bisa meraup Rp 1 juta per hari, sekarang Rp 250.000-Rp 300.000/hari, paling tinggi Rp 500.000/hari.

"Sekarang persaingan sudah mulai ketat, banyak toko-toko kelontong di perumahan, minimarket, jadi sekarang toko kelontong disini sepi," terang Lim Sui. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed