Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 31 Okt 2017 20:33 WIB

Pedagang ITC Kuningan dan Mall Ambassador Curhat Pembeli Sepi

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Danang Sugianto/detikFinance Foto: Danang Sugianto/detikFinance
Jakarta - Beberapa toko di ITC Kuningan dan Mall Ambasador tutup. Sebagian pedagang mengeluhkan sepinya pengunjung.

Dony misalnya, pedagang peralatan elektronik ini mengaku mengalami penurunan penjualan yang cukup drastis, bahkan terkadang dalam seminggu tidak ada satupun barang yang laku terjual.

"Kalau ini sehari kadang enggak laku satu pun. Kadang seminggu bisa enggak ada yang beli sama sekali," akunya kepada detikFinance, di Mall Ambassador, Jakarta, Selasa (31/10/2017).

Penurunan penjualan diakuinya mulai terasa sejak tahun lalu. Penyebabnya disinyalir penetrasi dari penjualan elektronik melalui online. Padahal dulu sewaktu belum ada e-commerce tokonya bisa mengantongi penjualan hingga Rp 15 juta per hari.

"Per hari waktu lagi ramai-ramainya bisa Rp 15 juta. Tapi sekarang kadang per hari enggak ada pemasukan. Orang malas juga ke sini, macet bayar parkir juga. Mending beli di online lebih murah. Makanya kita juga jual lewat online," tambahnya.

Hal serupa juga diakui oleh Adi, salah satu pegawai toko elektronik di Mall Ambassador. Menurutnya perbedaan harga yang cukup besar membuat pelanggannya kini lari ke toko online.

"Ya itu wajar, dia lebih murah. Kita mahal bayar sewa. Turunnya penjualan lumayanlah," tuturnya.


Sementara Gio, pedagang pakaian di ITC Kuningan juga mengaku merasakan hal serupa. Menurutnya pengunjung masih cukup banyak, namun hanya sedikit yang membeli.

"Akhir-akhir ini pengunjung memang sepi. Tapi sepi kalau mereka beli tidak apa-apa. Ini masih normal tapi cuma lihat-lihat doang," tuturnya.

Dia mengaku saat ini rata-rata per hari hanya mampu menjual 2 potong pakaian. Jika sedang sial, satupun tak terjual.

Bulan lalu dia mengaku mengantongi omzet belasan juta Rupiah. Namun itu hanya mampu menutupi biaya operasional, gaji karyawan dan biaya sewa tempat.

"Sewa di sini Rp 80 juta-Rp 100 juta per tahun, kalau yang di depan bisa lebih. Belum gaji karyawan, belum operasional, ya saya cuma ambil buat makan doang," imbuhnya.

Namun, pedagang pakaian lainnya, Ruby merasakan kondisi bisnisnya masih normal. Belakangan ini terasa sepi lantaran siklus sehabis hari raya Lebaran.

"Masih normal, sepi karena abis lebaran. Nanti Desember dan Januari ramai lagi. Tapi emang kalau lagi sepi banget sehari bisa enggak dapat sama sekali penjualan," tukasnya. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com