Pengangguran Bertambah 10.000 Orang, Bikin Lambat Konsumsi?

Pengangguran Bertambah 10.000 Orang, Bikin Lambat Konsumsi?

Hendra Kusuma - detikFinance
Senin, 06 Nov 2017 16:22 WIB
Pengangguran Bertambah 10.000 Orang, Bikin Lambat Konsumsi?
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2017 mencapai 5,06%, angka tersebut dikontribusikan salah satunya oleh konsumsi rumah tangga. Namun, komponen pengeluaran tersebut melambat dengan hanya mampu tumbuh di level 4,93%.

Apakah tingkat konsumsi rumah tangga yang lambat jadi 4,93% ini dipengaruhi oleh tingkat pengangguran yang bertambah 10.000 orang?

"Apakah ini akan mempengaruhi konsumsi, saya kira tidak ada pengaruhnya," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Kecuk Suhariyanto, di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (6/11/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suhariyanto mengatakan, angka pengangguran di Indonesia pada Agustus 2017 mencapai 7,04 juta orang dari jumlah angkatan kerja 128,06 juta orang atau yang bekerja sebanyak 121,02 juta orang.

Angka ini bertambah 10.000 orang jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebanyak 7,03 juta dari angkatan kerja 125,44 juta orang. Namun, secara persentase jumlah pengangguran menurun dari 5,61% di Agustus 2016 menjadi 5,50% di Agustus tahun ini. Penurunan tersebut lebih dikarenakan adanya peningkatan jumlah angkatan kerja sebanyak 2,6 juta.

Untuk tingkat konsumsi rumah tangga yang secara langsung menggambarkan daya beli masyarakat yang melambat di kuartal III-2017, kata pria yang akrab disapa Kecuk ini lebih dikarenakan perubahan pola.

"Ada pergeseran pola konsumsi yang bisa dicek dari komponen, untuk makanan dan minuman agak melambat, untuk restoran makanan naik tinggi, tetapi juga untuk kesehatan sesuatu yang bagus. Masyarakat mengurangi sandang untuk kesehatannya, begitu juga transportasi," tutup dia.

Jika dilihat lebih detilnya lagi, berdasarkan struktur menurut pengeluarannya, konsumsi rumah tangga sebesar 4,93%, investasu atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 7,11%, ekspor 17,27%, konsumsi pemerintah 3,46%, konsumsi Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) sebesar 6,01%, dan impor sebesar 15,09%.

Khusus konsumsi rumah tangga, Suhariyanto mengatakan, perlambatan terjadi pada komponen makanan dan minuman di triwulan III-2017 yang hanya tumbuh 5,04% jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar 5,23%. Lalu, perlambatan juga terjadi pada komponen pakaian, alas kaki, dan jasa perwatannya yang tumbuh melambat menjadi 2,00% dari periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar 2,24%. Serta perumahan dan perlengkapan rumah yang tumbuh melambat menjadi 4,14%.

Sementara untuk komponen kesehatan dan pendidikan naik tipis menjadi 5,38% di triwulan III-2017 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 5,36%, lalu komponen restoran dan hotel menjadi 5,52% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,01%. (wdl/wdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads