Follow detikFinance
Rabu 08 Nov 2017, 12:53 WIB

Kementan Fokus Atasi Rentan Rawan Pangan di Indonesia Timur

Mukhlis Dinillah - detikFinance
Kementan Fokus Atasi Rentan Rawan Pangan di Indonesia Timur Foto: Dikhy Sasra
Bandung - Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) sudah memetakan daerah rentan rawan pangan di Indonesia. BKP akan menaruh perhatian khusus kepada daerah-daerah itu tahun depan.

Kepala BKP, Agung Hendriadi, mengatakan berdasarkan evaluasi di tahun ini, ada beberapa perubahan program di 2018. Salah satunya melakukan pengentasan rentan rawan pangan.

"Kita punya data peta kerentanan pangan. Ini jadi perhatian BKP menggunakan data tersebut untuk pembenahan di 2018. Yang tadinya rentan, jadi tidak rentan," kata Agung kepada wartawan di Hotel El Royal, Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu (8/11/2017).

Ia menuturkan BKP mengklasifikasikan daerah-daerah rentan pangan itu dalam angka 1-4. Sementara 5-6 merupakan wilayah yang sudah memiliki ketahanan pangan.

Lebih lanjut dia menuturkan untuk wilayah rentan pangan itu utamanya di Indonesia Timur. Faktornya tak lain kondisi geografis yang tidak mendukung produksi pangan dengan memadai.

"Daerah sudah tidak rentan utamanya Indonesia barat dan tengah. Sementara Indonesia Timur paling rentan. Kondisi geografisnya tidak mendukung itu, kami akan mengangkat dari zona itu," tutur dia.

Menurut Agung, BKP punya cara mengatasi kerawanan pangan itu, antara lain dengan Rumah Pangan Lestari (RPL) pengentasan stunting, lumbung pangan masyarakat, mandiri pangan dan diversifikasi pangan.

"Evaluasi kami di tahun 2017 memang belum menggunakan data peta kerawanan pangan. Makanya tahun depan kami akan bergerak melalui data itu," ungkap dia.

Dia menjelaskan tahun depan BKP akan menjadikan diversifikasi pangan sebagai program tidak lagi hanya sekedar kampanye, mulai dari hulu sampai ke hilir.

"Jadi kita coba mulai dari hilir bahan baku lokal kita proses sentuhan bio industri kami angkat. Kalau sudah ada market dan dikonsumsi enak maka timbul diversifikasi pangan," tutur dia.

"Tahun-tahun berikutnya hulunya contohnya sagu, kalau berkembang dan diminati permintaan akan meningkat," menambahkan.

Kenaikan anggaran

Agung mengatakan tahun 2018 BKP mengajukan kenaikan anggaran untuk pembinaan kelompok rumah pangan lestari (KRPL) dari sebelumnya Rp 15 juta per titik menjadi Rp 50 juta. Hal ini untuk meningkatkan pemanfaatan KRPL.

Ia menjelaskan kenaikan anggaran ini dilakukan untuk mengoptimalkan KRPL menjadi produsen bibit, sehingga, sambung dia, perlu adanya penambahan anggaran.

"Nantinya setiap desa punya kebun bibit dan memproduksi itu. Perlu ada bimbingan dan infrastruktur harus punya sumur, pompa air kita lengkapi kita mengajukan menjadi Rp 50 juta," terang Agung.

"Mudah-mudahan efeknya banyak. Bawang cabe bisa. Idealnya (KRPL) itu satu kelompok wanita tani (KWT) bisa satu desa atau dua desa," dia menambahkan.

Menurutnya keberadaan KRPL juga bisa mengurangi persoalan stunting atau anak yang tumbuh kurang normal. Sebab, sambung dia, KRPL bisa memenuhi nutrisi yang dibutuhkan anak dalam masa pertumbuhan.

Dia menuturkan KRPL bisa memproduksi sayur-sayuran segar, buah-buahan dan protein hewani, sehingga masalah stunting ini bisa terselesaikan secara perlahan-lahan.

"Anak-anak yang tumbuhnya di bawah normal ini akibat nutrisinya kurang, salah satunya ketersediaan nutrisi nggak ada. Tidak ada sumber produksi pangan yang diperlukan. Untuk meningkatkan nutrisi keluarga solusinya KRPL," jelas dia. (hns/hns)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed