Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 08 Nov 2017 19:00 WIB

Terganjal di DPR, Cukai Plastik Hingga Emisi Kendaraan Masih Wacana

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Ari Saputra Foto: Ari Saputra
Jakarta - Penerapan cukai pelastik, minuman berkarbonasi, hingga emisi masih jadi wacana pemerintah. Meskipun, segala kajian sudah menunjukkan bahwa kebijakan tersebut memberikan dampak positif.

Dari sisi pemerintah melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) sudah siap, namun sayangnya tak ada progres ketika masuk di pembahasan dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

"Kalau kita masih harus diwacanakan oleh mereka rakor ini, terutama yang sekarang diajukan pemerintah, ada juga pengertian lain, ini tentunya harus dikonkretkan," kata Dirjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi di Kantor Pusat DJBC, Jakarta, Rabu (8/11/2017).

Dia menjelaskan, seperti cukai pada kresek yang muncul dari para pemerhati kesehatan serta pengendalian konsumsi minuman berpemanis agar masyarakat terhindar dari penyakit seperti diabetes.

"Tergantung pemerintah secara keseluruhan ekstensifikasi ini adalah keputusan bersama yang nanti akan secara resmi diajukan pemerintah. Ini bukan semata-mata keputusan Kemenkeu, dalam hal ini BKF dan Bea Cukai," jelas dia.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai, Marizi Z Sitohang mengatakan, penerapan kresek sebagai objek cukai masih menunggu persetujuan.

"Kresek masih nunggu, kami sudah kirim permintaan ke DPR untuk bahas, kami masih tunggu undangan pembahasan dari Komisi XI, dunia usaha ada yg keberatan ada yang tidak, biasa lah ini," jelas Marizi.

Selain cukai pada kresek dan minuman pemanis, pria yang akrab disapa Ucok ini juga menyebutkan, akan mengenakan cukai pada emisi dari setiap kendarana bermotor di Indonesia.

"Kami fokus ke kresek, yang sudah kami lakukan kajian adalah cukai kresek, minuman berpemanis, dan emisi kendaraan bermotor," jelas Ucok.

Hanya saja, untuk cukai pada emisi ini masih dalam kajian yang dilakukan oleh Badan Kebijakan Fiskal (BKF). Namun, dia menjelaskan, bahwa emisi ini akan dikenakan pada produsen dan tarifnya ditentukan berdasarkan pada seberapa tinggi emisi tersebut. Jadi semakin kecil emisinya, semakin kecil pula cukai yang dikenakan.

"Kami harapkan yg ramah lingkungan, tapi ini masih kajian, kalau dilihat prioritas mungkin plastik, minuman berpemanis karena ini yang mudah," tukas Ucok. (mkj/mkj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed