Stok Beras Tak Terpenuhi, Bulog Minta Kran Impor Dibuka

Stok Beras Tak Terpenuhi, Bulog Minta Kran Impor Dibuka

- detikFinance
Selasa, 31 Mei 2005 14:48 WIB
Jakarta - Perum Bulog meminta kepada pemerintah untuk membuka kran impor beras bila sampai Agustus mendatang, target realisasi pengadaan beras Bulog tidak terpenuhi akibat musim kering. Demikian dikatakan oleh Dirut Perum Bulog Widjanarko Puspoyo saat peluncuran buku "Gula Rasa Neoliberalisme" di Perpustakaan Nasional, Salemba, Jakarta, Selasa (31/5/2005).Untuk merasionalkan stok, maka target pengadaan beras Bulog di tahun 2005 turun dari prognosa awal yaitu 2,2 juta ton menjadi 1,9 juta ton. Dijelaskannya, dari 1,9 juta ton tersebut terdapat cadangan hingga 31 Desember 2005 sebesar 1,1 sampai 1,2 juta ton, di mana 350 ribu ton merupakan milik pemerintah."Sekarang pengadaan beras yang sudah terlaksana 900 ribu ton. Bulog tetap optimistis untuk memenuhi sisa 1 juta ton lagi, walaupun di beberapa daerah terkena musim kering seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur terdapat 28 Kabupaten terkena musim kering," ujarnya.Ditegaskan Widjanarko, akhir Juni ini stok beras nasional akan dievaluasi, dan bila tidak dipenuhi maka pada Agustus akan dibuka kran impor yang akan dilakukan oleh pihak swasta.Menurutnya, pemerintah harus bijaksana untuk melihat harga beras internasional yang masih tinggi, sehingga kemungkinan besar stok beras dunia terbatas. Oleh karena itu, pemerintah harus ambil keputusan cepat melihat kondisi iklim sekarang. "Bila keputusan impor lebih cepat, maka akan lebih menguntungkan sebagai antisipasi iklim kekeringan di beberapa negara produsen beras," tegasnya.Pemerintah pun diminta berhati-hati mengeluarkan kebijakan harga gabah, karena kebijakan yang awalnya ditujukan membantu petani justru kontraproduktif, karena jika harga beras tinggi petani akan terkena dampaknya. Sebab jika musim panen berakhir, petani juga menjadi pembeli beras dan 52 persen penerima beras raskin adalah petani.Mengenai pembentukan anak perusahaan, Widjanarko menilai, memang harus dibentuk mengingat Bulog didesain hanya melakukan tugas publik kemudian tiba-tiba manajemen diminta menghidupi sendiri. Padahal selama ini Bulog tidak bisa melakukan bisnis."Makanya nanti untuk bisnis akan dilakukan oleh anak perusahaan. Juni, feasibility-nya akan selesai dan recananya anak perusahaan ini akan bergerak di bidang industri pangan yang terkait dengan bahan dasar beras," ujarnya.Dikatakan Widjanarko, anak perusahaan Bulog ini nantinya akan bekerja sama dengan Pemda. "Kalau yang bergerak di bidang jasa akan menyewakan gudang dan transportasi. Sedangkan dalam bidang trading akan menjual komoditas sektor pertanian," demikian Dirut Perum Bulog. (san/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads