Follow detikFinance
Senin 13 Nov 2017, 16:26 WIB

Kepala Bappenas: Daya Beli Orang RI Tidak Turun

Hendra Kusuma - detikFinance
Kepala Bappenas: Daya Beli Orang RI Tidak Turun Foto: Maikel Jefriando
Jakarta - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro menuturkan, tingkat konsumsi rumah tangga di kuartal III-2017 masih di level yang terjaga, meskipun pertumbuhannya mengalami perlambatan jika dibandingkan periode sebelumnya yang tumbuh di level 4,95%.

Dengan begitu, pada kuartal III-2017 tidak terjadi penurunan daya beli masyarakat. Pasalnya, konsumsi rumah tangga merupakan cerminan daya beli masyarakat di Indonesia.

"Khusus daya beli pertama saya tegaskan daya beli tidak turun karena konsumsi rumah tangga kita masih naik 4,93%," kata Bambang di Kantor Bappenas, Jakarta, Senin (13/11/2017).


Dia mengakui, tingkat konsumsi 4,93% mengalami pelambatan lantaran pada periode yang sama di tahun sebelumnya ada lebaran. Sedangkan tahun ini lebaran jatuh pada kuartal II-2017.

"Kalau kita bagi dari 10 kelompok pendapatan Maret 2015-2016 dan Maret 2016-2017, di semua kelompok mengalami peningkatan dan yang paling tinggi menengah ke atas, sedangkan pengeluaran menengah bawah masih tetap tumbuh meskipun melambat," jelas dia.

Bambang mengungkapkan, melambatnya tingkat konsumsi rumah tangga pada kuartal III-2017 juga karena adanya pergeseran dari barang ke jasa. Hal itu bisa dilihat dari konsumsi rumah tangga 4,93%, sektor pakaian, alas kaki dan jasa perawatannya melambat ke level 2,00%, sedangkan untuk restoran dan hotel tumbuh ke 5,52%, kesehatan dan pendidikan tumbuh ke 5,38%.

"Ini terkait leisure, orang sudah mulai kalau dia ingin leisure atau jalan-jalan banyak, dulu konsep belanja bersama-sama satu keluarga ke hypermart, sekarang ini keluarga yang naik kelas mulai jalan-jalan tidak harus berbelanja, tapi belanja leisure yang sifatnya pariwisata, yang butuhkan transportasi, ini petanda ada pergeseran," jelas Bambang.


Tidak hanya itu, kata Bambang, berdasarkan porsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi juga meningkat di bulan September tahun ini. Berdasarkan data BI, lanjut Bambang, 66,4% penghasilan masyarakat ditujukan untuk konsumsi, 14,4% untuk cicilan pinjaman, dan 19,2% untuk tabungan.

Hanya saja, data dari Bank Indonesia ini tidak menggambarkan seluruh masyarakat di Indonesia. Melainkan hanya orang yang dianggap bankable, atau terakses oleh sistem perbankan nasional.

"Secara total berdasarkan data BI dari total pendapatan masyarakat 66,4% untuk konsumsi, cicilan 14,4% dan tabungan 19,2%, jadi sebenarnya dengan pendapatan yang baik, konsumsi membaik, jadi tetap tumbuh memang karena ada pergeseran konsumsi ke jasa terutama leisure," papar dia.

(mkj/mkj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed