Wolfowitz Resmi Bos Bank Dunia

Fokus ke Afrika dan Korupsi

Wolfowitz Resmi Bos Bank Dunia

- detikFinance
Rabu, 01 Jun 2005 14:37 WIB
Jakarta - Mantan arsitek perang Irak, Paul Wolfowitz, hari ini resmi menjadi Presiden Bank Dunia menggantikan James Wolfensohn. Dalam kepemimpinannya, Wolfowitz akan memfokuskan perhatiannya ke Afrika, penanganan korupsi dan juga membuat negara miskin tak lagi merasa dikesampingkan dalam pengambilan keputusan Bank Dunia. Wolfowitz juga berjanji meneruskan usaha pendahulunya, Wolfensohn, dalam memberantas korupsi di sejumlah proyek Bank Dunia. Wolfensohn yang memimpin Bank Dunia hampir satu dekade selalu mengkampanyekan pemberantasan korupsi dalam proyek-proyek Bank Dunia. Dalam penjelasan pertamanya kepada wartawan sejak dia terpilih Maret lalu seperti dilansir Reuters, Rabu (1/6/2005), Wolfowitz menegaskan dirinya tidak akan melakukan perombangan di tubuh Bank Dunia. "Bank Dunia sudah berada dalam bentuk yang hebat," ujarnya. Wolfowitz mengatakan, meski dirinya memfokuskan diri ke Afrika, namun tidak akan melupakan negara lainnya di Amerika Latin, Timur Tengah dan juga Asia. "Afrika memiliki ketergantungan dan kebutuhan terhadap Bank Dunia yang lebih menonjol dibandingkan negara-negara lain," katanya.Ia menambahkan, peranan Bank Dunia di Afrika penting agar lusinan atau lebih negara di Afrika perekonomiannya bisa tumbuh hingga 5 persen per tahunnya. "Namun perjalanannya masih panjang menunju ke sana. Saya akan menemukan hal yang tidak lebih menggembirakan dibandingkan jika pada akhir masa jabatan saya, Afrika dapat beralih dari benua keputusasaan menjadi benua yang penuh harapan," urai Wolfowitz. Wolfowitz juga berjanji kepada negara-negara berkembang yang selama ini mengeluh merasa diasingkan saat Bank Dunia membuat keputusan. "Saya akan bekerja keras untuk mengubah perasaan itu," tegasnya. Wolfowitz yang diajukan Presiden AS George W Bush untuk menjadi Presiden Bank Dunia ini merupakan salah satu arsitek perang Irak. Karena masa lalunya itu, pencalonan Wolfowitz sempat mendapat kritikan yang tajam dari sejumlah lembaga internasional dan juga negara-negara yang menolak perang Irak. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads