Follow detikFinance
Rabu 15 Nov 2017, 09:38 WIB

Jokowi Sebut ASEAN dan India Generator Ekonomi Dunia

Ray Jordan - detikFinance
Jokowi Sebut ASEAN dan India Generator Ekonomi Dunia Foto: Biro Pers Setpres
Jakarta - ASEAN dan India memiliki potensi yang sangat besar dalam mendorong ekonomi dunia. Pasar bersama mencapai 2 miliar orang dan total Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai US$ 4,5 miliar, maka layak disebut salah satu generator ekonomi dunia.

Hal ini disampaikan Presiden Joko Widodo ketika menghadiri KTT ke-15 ASEAN-India yang juga dihadiri oleh PM India Narendra Modi. Pertemuan tersebut digelar di Philippine International Convention Center (PICC), Manila, Filipina pada hari Selasa, 14 November 2017.

"Namun, neraca perdagangan dan investasi kita masih jauh dari optimal," ujar Presiden.

Indonesia juga mengapresiasi kemajuan kerja sama kemitraan ASEAN-India selama 25 tahun. Sebagai momentum untuk mendorong penguatan kerja sama menuju puncak perayaan ASEAN-India Commemorative Summit tahun depan

"Saya ingin garis bawahi optimalisasi kerja sama ekonomi ASEAN-India sebagai prioritas bersama," kata Jokowi.


Optimalisasi kerja sama ekonomi tersebut dilakukan melalui berbagai langkah termasuk melalui percepatan penyelesaian Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

"Keberhasilan RCEP mengirimkan pesan kuat bahwa integrasi ekonomi dapat menghasilkan manfaat bagi semua," tutur Presiden.

Presiden mengingatkan bahwa hingg kini dunia masih terus dibayangi ketidakpastian. "Untuk itu ASEAN dan India perlu perkuat kerja sama penguatan arsitektur keamanan kawasan dan kerja sama maritim termasuk melalui EAS dan IORA di Samudra Hindia, dan penyelesaian ASEAN-India Maritime Transport Agreement," ujar Jokowi.

Jokowi Dorong RCEP Selesai Tahun 2018

Jokowi mendorong agar target penyelesaian perundingan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) pada tahun 2018 dapat tercapai.

"Saya berharap perundingan RCEP dapat segera diselesaikan. Penyelesaian RCEP akan memberikan pesan kuat bahwa integrasi ekonomi dapat menguntungkan semua pihak," ungkapnya.

Menurut Jokowi, proses perundingan yang telah berjalan selama 5 tahun itu belum dapat mencapai kesepakatan atas isu-isu utama khususnya di bidang perdagangan barang, perdagangan jasa dan investasi.

"RCEP akan menjadi pakta perdagangan bebas terbesar di dunia dengan jumlah penduduk mencapai hampir setengah populasi dunia," ujarnya.

Di depan seluruh Kepala Negara dan Pemerintahan peserta perundingan RCEP, Jokowi juga menekankan pentingnya pemberian mandat kepada para perunding untuk bersikap lebih fleksibel, pragmatis dan realistis tanpa mengorbankan kualitas dari perjanjian itu sendiri.

"Saya paham perbedaan level ambisi yang berbeda merupakan tantangan yang tidak dapat kita abaikan. Namun RCEP merupakan "living document" sehingga masih terus dapat kita kembangkan seiring dengan jaman," ucapnya.

RCEP merupakan konsep perjanjian perdagangan bebas antara 10 negara ASEAN dengan enam negara mitra yaitu Australia, China, India, Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru. Perundingan RCEP secara formal dimulai sejak bulan November 2012 saat KTT ASEAN di Kamboja. Adapun proyeksi ekonomi dari RCEP ditaksir memiliki PDB gabungan sebesar 31,60% dari PDB dunia; dan mewakili 28,5% perdagangan global. (mkj/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed