BI: Pertumbuhan Kepri Paling Rendah di Sumatera

BI: Pertumbuhan Kepri Paling Rendah di Sumatera

Agus Siswanto Siagian - detikFinance
Rabu, 15 Nov 2017 20:56 WIB
BI: Pertumbuhan Kepri Paling Rendah di Sumatera
Foto: Agus Siswanto/detikcom
Jakarta - Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Gusti Raizal Eka Putra, di Batam mengatakan,hingga triwulan III tahun 2017, pertumbuhan ekonomi Kepri diakui masih terendah di Sumatera, walau mengalami pertumbuhan. Di Triwulan III-2017, ekonomi Kepri tumbuh 2,41%

"Secara komposisi masih tetap. Tapi kalau lihat berdasarkan jumlah pertumbuhan, Kepri di posisi paling rendah nasional dan Sumatera. Pertumbuhan ekonomi triwulan IV diperkirakan menguat pada kisaran 4,0-4,4 persen (yoy)," ujar Gusti, di Batam, Rabu (15/11/2017)

Hal ini terutama ditopang industri pengolahan, perbaikan tingkat konsumsi pemerintah dan rumah tangga,serta tingkat permintaan ekspor luar negeri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Survei kegiatan dunia usaha, pelaku usaha cenderung lebih optimis dibanding realisasi triwulan-II. Survei konsumen sampai Oktober 2017, menunjukkan perbaikan" jelasnya.

Disebutkan, perekonomian Provinsi Kepri tumbuh lebih baik pada triwulan III,Dimana perekonomian tumbuh 2.41 persen (yoy). Iebih tinggi dibanding pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 1.04 persen (yoy). Pertumbuhan tersebut Juga lebih rendah dibanding nasional yang mencatatkan pertumbuhan ekonom, 5.06 persen (yoy).

Disebutkan, memasuki triwulan IV, perekonomian Kepri diperkirakan akan menguat. Hal itu karena membaiknya perekonomian dunia, sehingga menompang permintaan ekspor luar negeri. Harga komoditas yang semakin membaik (migas, batubara, CPO) akan menodorong peningkatan kebutuhan kapal.

"Investasi konstruksi di Kepri diperkirakan tetap kuat terutama didorong oleh konsumsi pemeritah seperti waduk Sei Gong dan beberapa proyek swasta seperti pembangunan hotel dan apartemen," kata Gusti.

Konsumsi dan investasi

Dari sisi permintaan. pertumbuhan ekonomi triwulan III dipengaruhi oleh perbaikan kinerja investasi dan konsumsi rumah tangga. Karena investasi meningkat 9.03 persen.

Terutama pada investasi bangunan baru, baik oleh pemerintah dan swasta. Selain itu ada investasi non bangunan, seperti pembelian mesin dan peralatan industri yang mengalami kontraksi. Demikian net ekspor yang masih mencatatkan kontraksi, terutama bersumber pada penurunan ekspor antar Provinsi.

"Konsumsi pemerintah mengalami pertumbuhan 0.04 persen (yoy), lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang mengalami kontraksi," tambahnya.

Sementara itu konsumsi rumah tangga tumbuh menguat sebesar 7.20 persen (yoy) ditopang peningkatan jumlah kunjungan Wisman dan penurunan ungkat pengangguran Agustus 2017 dibandingkan penode yang sama tahun 2016. "Dari slsl lapangan usaha. pertumbuhan ekonomi bersumber dari perbaikan kinerja sektor industri pengolahan, konstruksi dan perdagangan," papar Gusti.

Demikian, diakui jika triwulan III, tekanan inflasi Kepri melemah. Hal itu dipengaruhi dengan telah berlalunya perayaan hari besar keagamaan. Inflasi triwulan Ill sebesar 3.78 persen (yoy), lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya dengan inflasi sebesar 4.73 persen (yoy).

"Kelompok administered price, mencatatkan inflasi 8.88 persen (yoy), dengan andil terbesar inflasi dari tarif listrik," ujarnya.

Di tengah pertumbuhan ekonomi saat ini, kinerja perbankan Kepri (Bank Umum dan BPR) diakui tetap kuatm hal ini tercermin dari kredit yang tumbuh 5.43 persen (yoy) dibanding triwulan sebelumnya sebesar 4.13 persen (yoy). Penguatan kredit khususnya pada kredit investasi, modal kerja dan konsumsi dana pihak ketiga (DPK) tumbuh melemah 6.87 persen (yoy) dibanding sebelumnya sebesar 7,60 persen (yoy).

"Pelemahan dana pihak ketiga (DPK), khususnya pada tabungan dan deposito. Sementara giro menunjukkan penguatan," tutup Gusti Raizal (hns/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads