Impor Beras Tetap Ditutup

Menteri Pertanian:

Impor Beras Tetap Ditutup

- detikFinance
Rabu, 01 Jun 2005 18:44 WIB
Jakarta - Meski Perum Bulog meminta kran impor beras dibuka, Menteri Pertanian (Mentan) Anton Apriantono tetap menutup impor beras karena rendahnya harga beli gabah. Penutupan kran impor itu dimaksudkan untuk menaikkan harga beras lokal.Demikian disampaikan Anton Apriantono saat rapat kerja (raker) dengan Komisi IV DPR RI di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (1/6/2005)."Tidak ada prediksi kita harus impor, karena produksi nasional mencukupi selama tidak ada perubahan musim secara ekstrem," kata Anton Apriantono.Formalitas penutupan impor, katanya, belum ada karena masih menunggu Menteri Perdagangan Mari Elka Pengestu kembali dari luar negeri.Mengenai penurunan target pengadaan beras Bulog yang semula 2,2 juta ton menjadi 1,9 juta ton, Anton menjelaskan, jumlah tersebut sudah cukup untuk menjaga stok nasional. Akan tetapi sangat disayangkan kenapa Bulog justru meminta pembukaan impor beras di saat harga beli di tingkat petani rendah."Keinginan kami di saat harga rendah, Bulog mau beli. Tapi ternyata tidak tercapai," ungkapnya.Ketika disinggung bahwa alasan Bulog karena adanya musim kering, Anton mengaku sudah menanyakan ke Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) dan ternyata jawabannya tidak akan ada musim kering, musim akan sama dengan tahun lalu. "Mungkin karena harga sekarang sedang baik, maka Bulog tidak mau beli," ujarnya.Menurut Anton, tidak tercapainya pengadaan beras Bulog karena Bulog menggunakan mekanisme mitra dalam pengadaan beras. Sayangnya, mitra Bulog tersebut kurang agresif turun ke lapangan sehingga target tidak tercapai.Dijelaskannya, pemerintah sebenarnya tidak akan menutup secara total seluruh impor beras untuk mengindari komplain dari organisasi perdagangan dunia (WTO). "Kita masih bukan impor jenis beras tertentu yang tidak diproduksi di Indonesia, misalnya beras untuk diabetes dan beras Jepang. Namun kuotanya ditetapkan oleh kami sesuai kebutuhan agar tidak berlebihan," tandas Mentan. (san/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads