Follow detikFinance
Rabu 22 Nov 2017, 22:30 WIB

Sri Mulyani: Presiden Bangun Indonesia Sentris

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Sri Mulyani: Presiden Bangun Indonesia Sentris Foto: Ardan Adhi Chandra
Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati malam ini hadir sebagai pembicara dalam acara Projo Public Lecture. Projo adalah organisasi masyarakat pendukung Presiden Joko Widodo (Jokowi) atau Pro Jokowi.

Sri Mulyani tiba di lokasi sekitar pukul 19.45 WIB mengenakan pakaian berwarna hitam. Topik yang diangkat dalam acara ini adalah Indonesia Menuju Kekuatan Utama Ekonomi Dunia.

Dalam kesempatan ini, Sri Mulyani menjelaskan bagaimana mencapai cita-cita Indonesia melalui anggaran yang ada. Misalnya, dalam memajukan kesejahteraan umum dengan mengurangi angka kemiskinan dan tingkat kesenjangan melalui pembangunan yang merata, termasuk membangun infrastruktur.


"Dalam memajukan kesejahteraan umum, mengurangi kemiskinan, mengurangi pengangguran, mengatasi kesenjangan dan Presiden bangun Indonesia bukan Jakarta sentris, bukan Jawa sentris, it is Indonesia sentris," kata Sri Mulyani di Wisma Antara, Jakarta Pusat, Rabu (22/11/2017).

Selain itu, peningkatan kualitas pendidikan juga dilakukan melalui anggaran yang ada atau sekitar 20% dari APBN. Kualitas pangan bagi anak-anak pemerus bangsa juga harus diperhatikan sehingga anak-anak Indonesia bisa tumbuh cerdas.

"Konteks kali ini lebih sederhana, kira-kira konkretnya apa di dalam konteks Indonesia tujuan dan misi kemerdekaan maka ekonomi harus tumbuh cukup tinggi berkelanjutan. Inklusif, berkeadilan dan terus memerangi kemiskinan dan kesenjangan," ujar Sri Mulyani.


Sri Mulyani juga membeberkan tantangan ekonomi Indonesia masih terasa meskipun kondisi ekonomi berangsur membaik. Tantangan yang perlu diwaspadai adalah pelemahan pertumbuhan ekonomi China dari kisaran 10% atau bahkan di atasnya menjadi anjlok hingga ke level 6%.

Ketidakpastian ekonomi dunia juga masih berlanjut seiring masih adanya gejolak politik di Korea Utara dan negara-negara Timur Tengah ditambah lagi dengan adanya ancaman terorisme dan dampak perubahan iklim yang mulai terasa ikut mempengaruhi perekonomian dunia, tak terkecuali Indonesia.

"Ketidakpastian geopolitik Korea Utara, middle east apa yang terjadi di berbagai belahan dunia, serangan terorisme dan perubahan iklim menciptakan down side risk," terang Sri Mulyani.

Akan tetapi, level pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menjadi nomor tiga terbaik di antara anggota G20, di bawah China dan India.


Sri Mulyani menambahkan, APBN memiliki tiga fungsi, antara lain alokasi, distribusi, dan stabilisasi. Dalam fungsi alokasi, anggaran dialokasikan untuk apa dan berapa besar yang diharapkan dapat memberikan dampak ke pertumbuhan ekonomi.

Dalam fungsi distribusi, anggaran dialokasikan dalam bentuk subsidi yang diberikan kepada masyarakat kurang mampu. Fungsi stabilisasi adalah APBN berfungsi menjaga kualitas pertumbuhan ekonomi agar berjalan dalam jalurnya.

"APBN 2018 tahun depan Rp 2.220 triliun belanja republik di mana Rp 847 triliun melalui kementerian-kementerian dan lemabaga dan Rp 766 triliun kepada Pemda melalui transfer ke daerah dan Rp 600 triliun belanja non KL (Kementerian/Lembaga). Rp 2.220 triliun akan dapat dari penerimaan pajak dan non pajak Rp 1.894,7 triliun, pajaknya Rp 1.618 triliun, PNBP, royalti, dividen Rp 275 triliun dan hibah Rp 1,2 triliun," jelas Sri Mulyani.

Defisit APBN 2018 dirancang di level yang lebih rendah dibandingkan tahun ini 2,67%, yaitu 2,19% terhadap PDB. Rasio ini termasuk yang kecil dibandingkan negara lain di dunia.

"Defisit 2,19% dari total GDP nasional termasuk defisit paling kecil di dunia," pungkas Sri Mulyani. (ara/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed