Kisah Mahasiswa yang Belum Lulus Sudah Diterima di Perusahaan Asing

Niken Widya Yunita - detikFinance
Senin, 27 Nov 2017 17:32 WIB
Foto: Silvia dan rekan-rekannya (Dok. President University)
Jakarta - Bekerja di perusahaan asing tentunya menjadi impian setiap lulusan perguruan tinggi. Bahkan diterima menjadi karyawan saat masih berstatus mahasiswa, mungkin hanya sebagian kecil yang mengalaminya.

Salah satunya Silvia Chayadi, mahasiswi President University jurusan manajemen. Ketika magang di perusahaan Farglory Free Trade Zone Taiwan, dara kelahiran Medan 21 tahun ini ditawari bekerja di King Freight International Corp.

Murid termuda di program kelas Certified Financial Analyst (CFA) ini menyampaikan awal mula diterima kerja di perusahaan asing tersebut.

Menurut Silvia, pada awalnya dia magang di perusahaan logistik terbesar di Taiwan, yaitu Farglory Free Trade Zone melalui kerja sama International Office President University. Karena berkinerja baik, dia mendapatkan promosi.

"Ada perusahaan bernama King Freight International Corp. Sebuah perusahaan yang fokus pada ocean freight forwading, atau pengiriman ekspor impor melalui laut sedang mencari orang yang sudah pernah ke Taiwan dan tahu kultur Taiwan. Juga bisa berbahasa Mandarin untuk ditempatkan di kantor cabangnya yang di Indonesia," ungkap Silvia, dalam keterangan tertulis dari President University, Senin (27/11/2017).

Kemudian putri bungsu dari tiga bersaudara ini ditunjuk untuk mengikuti interview dan tahap-tahap seleksinya. Kemudian dia diwawancarai oleh human resources dan vice president
perusahaan tersebut di Taipei, head office-nya.

Kisah Mahasiswa yang Belum Lulus Sudah Diterima di Perusahaan AsingFoto: Silvia (Dok. President University)


Kemudian dia mendapat konfirmasi diterima yang kemudian ditraining selama 2 hari untuk mengenal logistik, supply chain, ekspor, impor. Hal ini karena latar belakang kuliah dia bukan mengenai hal itu.

"Pihak Taiwan sudah melakukan konfirmasi dengan pihak Indonesia yakni pada Januari 2018 nanti saya pulang ke Indonesia. Hal ini untuk bertemu pihak perusahaan yang di Indonesia untuk bicara salary dan benefit, job desc, dan lain sebagainya," ungkap Silvia yang saat ini masih berada di Taiwan.

Dalam kesempatan bekerja nanti, Silvia ingin memperoleh ilmu tentang supply chain, bagaimana prosedur ekspor dan impor, bagaimana cara pikir dan decision making orang
China. Silvia mengakui, orang China bekerja dan berpikir dengan sangat cepat, jadi ia ingin pelajari hal itu. Sesuai dengan cita-citanya sebagai CEO bank, Silvia menyadari seorang banker masa depan harus tahu industri karena bank itu memberikan pinjaman ke industri harus bisa melakukan analisis industri.

Kuasai Bahasa Inggris dan Mandarin

Perjalanannya hingga dipercaya kerja di perusahaan asing, adalah berkat keputusannya kuliah di President University setelah lulus SMA Kristen Penabur 5 Jakarta pada 2014. Dia tertarik dengan ekonomi semenjak di bangku SMA, sehingga saya akan mengambil jurusan manajemen setelah lulus.

"Saya melihat di President University ada jurusan manajemen dengan pembagian spesifik (konsentrasi) yaitu banking and finance, international business, human resources dan marketing. Dan saya tertarik dengan banking and finance karena dilihat kurikulumnya lebih tertuju kepada investment," ungkap putri bungsu dari tiga bersaudara ini.

Selain itu, alasannya masuk President University adalah lingkungan internasional dan full english sebagai bahasa pengantar, menjadi kesempatan buatnya untuk berlatih, mengingat
pentingnya Bahasa Inggris di masa depan. Di President University mahasiswa juga harus tinggal di asrama pada tahun pertama, sehingga Silivia yang menerima beasiswa ini
tertantang untuk hidup mandiri tanpa orang tua.

Benar saja, President University terus berkembang, sekarang Prodi Manajemen sangat up to date dalam menyusun kurikulum. Salah satunya memasukkan Bahasa Mandarin sebagai mata kuliah wajib, karena melihat perkembangan perekonomian China yang mengglobal, dan menurut Silvia ini benar-benar luar biasa.

Selain menguasai bahasa, pada tahun pertama kuliah, Silvia adalah anggota senat atau PUSC (President University Student Council). Pada tahun kedua diangkat menjadi kepala divisi. PUSC adalah badan legislatif mahasiswa yang bekerja dan bertanggung jawab kepada Vice Rector III Bidang Student dan Alumni Affairs yang saat ini dijabat Dr. Agus H. Canny, M.A., M.Sc.

Silvia juga aktif sebagai panitia di berbagai lomba dan event, seperti Capital Market Competition sebagai public relation, Smart Economic Challenge sebagai master of ceremony, dan masih banyak lagi. Di samping itu, dia juga bergabung sebagai Ambassador Campus di tahun pertama kuliah dan menjadi Team Leader Ambassador Campus President University di tahun kedua.

"Dari berorganisasi saya mendapat pengalaman yang sangat banyak, terutama self development, perkembangan diri yang benar-benar drastis. Dari berorganisasi saya didorong untuk memimpin, menyuarakan pendapat, belajar bagaimana membuat decision making, bagaimana menjadi ketua yang wise, ketika anggotanya ada silang pendapat. Saya belajar bagaimana bernegoisasi dengan orang-orang, apa itu tanggung jawab dan integritas," ucap dia.

Semua itu, dia dapat atas dukungan orang tua dan pihak kampus. Ayah Silvia adalah sosok yang menginspirasinya dari kecil hingga sekarang.

"Karena beliau yang mengajarkan saya melihat dunia, bahwa dunia ini penuh persaingan, bahwa kerja keras adalah hal utama yang orang harus punya. Orang pintar akan kalah dengan orang bekerja keras. Beliau yang memberikan contoh bagaimana menjadi orang yang seperti saya sekarang. Menurut ayah dengan bekerja di perusahaan Taiwan, saya bisa mengasah Bahasa Mandarin sebelum melanjutkan kuliah S2 di negara China," ungkap Silvia yang menyebutkan ibundanya juga sangat bangga atas pencapaiannya.

Silvia menyampaikan terima kasih kepada Genoveva sebagai dosen pembimbing dalam menyelesaikan thesis, juga kepada Canny yang sering memberikannya masukan. Judul tesisnya adalah 'Customers Perceptions Towards Internet Banking Adoption'. Dia mengambil topik itu karena pada zaman sekarang yang sedang hits dan berkembang pesat adalah teknologi.

"Jangan mau teknologi control your life, tetapi gunakan teknologi untuk membantu kamu mempermudah urusan hidupmu. Apalagi zaman sekarang lagi marak-maraknya ecommerce yang membuat kita tidak jauh-jauh berbelanja, karena transaksi semua menggunakan online," ujar Silvia yang ternyata juga mempunyai mimpi besar membuka Silvia's foundation, seperti membuka sekolah gratis untuk anak kurang mampu dan panti jompo.

Selain Genoveva yang menjadi mentor dan terus memotivasi dan mendukungnya, ada teman-teman Silvia yang ikut berperan. Namun peran terpenting adalah Tuhan dan orang tuanya.

"Karena mereka yang membuat saya menjadi seperti sekarang. Menjadikan saya lebih baik," ungkapnya.

(nwy/ega)