Di tahun ini, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada di level 5,2%. Diperkirakan angka tersebut tidak tercapai dan berada di kisaran 5-5,1%.
Ekonom Hendri Saparini mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5% sebetulnya tidak cukup. Angka tersebut belum banyak memberikan manfaat bagi penciptaan lapangan kerja juga pendapatan masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hendri pun optimistis ekonomi Indonesia bisa menembus di atas 5%. Pasalnya masih banyak potensi yang belum dimanfaatkan secara maksimal, antara lain stabilitas ekonomi, produksi dalam negeri, kapasitas pasar yang besar hingga iklim investasi yang baik.
Hendri menambahkan, permintaan konsumsi dalam negeri bisa dilakukan dengan meningkatkan produksi. Pasalnya, masih ada beberapa produk yang banyak diminati tapi belum bisa banyak dipasok dari dalam negeri.
"Karena pengen tumbuh lebih tinggi, inovasinya optimalkan dari produksi, karena dari sisi permintaan kita sudah cukup. Jadi kita punya pasar besar akan bisa kita penuhi produksi dalam negeri," ujar Hendri.
Selain itu, kebijakan fiskal juga perlu didorong untuk menggerakkan sektor yang sedang tumbuh lambat melalui insentif. Jangan hanya mengejar penerimaan perpajakan saja.
"Sekarang kebijakan pajak dan fiskal harus dioptimalkan tidak hanya menjaga konsumsi tetapi juga mendorong konsumsi," ujar Hendri.
Selanjutnya, perlu dilakukan inovasi sektor pembiayaan dengan menambah instrumen investasi. Sehingga masyarakat memiliki lebih banyak alternatif investasi dan pembiayaan untuk proyek bisa diatasi.
"Bisa dilakukan invoasi mengubah pembiayaan pemerintah dengan tercipta model lebih banyak bisa mendorong belanja pemerintah BUMN juga swasta," ujar Hendri. (ara/mkj)










































