Follow detikFinance
Kamis, 30 Nov 2017 19:41 WIB

Laporan dari Tokyo

Mendag Usulkan Agar Lansia Jepang Dirawat di Indonesia

Sudrajat - detikFinance
Foto: Sudrajat Foto: Sudrajat
Jakarta - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menilai pengiriman tenaga perawat ke Jepang dalam beberapa tahun ini jumlahnya masih sedikit dan tidak memberikan efek turunan secara ekonomi yang besar.

Karena itu dia mengusulkan agar ke depan sebaiknya tak perlu perawat RI yang ke Jepang tapi para orang-orang lanjut usia Jepang yang dirawat di Indonesia.

Fasilitas perawatan berupa rumah-rumah jompo yang modern dapat dibangun di Bali atau daerah lain yang dapat diakses langsung dengan penerbangan dari Jepang.

"Silakan para pengusaha Jepang bekerja sama dengan pengusaha lokal untuk membangun fasilitas rumah jompo yang diinginkan. Beri kepercayaan kepada Indonesia untuk merawat para lansia Jepang di Indonesia," kata Enggartiasto dalam Forum Bisnis Indonesia-Jepang di Tokyo, Rabu (29/11/2017).

Ratusan pengusaha Jepang dan Indonesia yang hadir tampak antusias menyimak pemaparan menteri yang juga politisi Partai Nasdem itu. Mereka sontak bertepuk tangan merespons tawaran sekaligus tantangan tersebut.

Enggartiasto meyakinkan bahwa budaya Jepang dan Indonesia dalam sejumlah hal tidak jauh berbeda. Hospitality masyarakat kedua negara juga hampir sama, bahkan dalam tradisi menghormati dan melayani orang tua sepertinya masyarakat Indonesia punya kelebihan tersendiri.

Dengan nilai-nilai sosial dan budaya seperti itu, Utusan Khusus Presiden Bidang Investasi Jepang Rachmat Gobel menambahkan, soal ketelatenan para perawat Indonesia menjadi kelebihan tersendiri. Karena itu, mereka tak cuma disenangi oleh Jepang tapi juga di negara-negara Timur Tengah.

Dalam perjalanan menuju Aeon seusai acara, kepada detikcom, Enggartiasto menjelaskan sejumlah keuntungan yang bakal diraih jika ide yang ditawarkan itu kelak bisa terwujud.

Bila perawat Indonesia yang pergi ke Jepang, kata dia, keuntungan ekonomi hanya bisa dirasakan oleh si perawat dalam bentuk gaji bulanan. Juga kemampuan teknis si perawat karena mendapatkan pelatihan sesuai standar Jepang.

Tapi bila orang-orang lansia itu yang dirawat di Indonesia, tentu akan banyak devisa yang masuk.

Dia antara lain mencontohkan selain soal gaji yang bakal didapat para perawat, juga ada pengeluaran untuk biaya hidup si lansia yang bakal dihabiskan selama di Indonesia, serta biaya kunjungan si anak dalam waktu tertentu.

"Taruhlah setahun sekali si anak datang nengokin orang tuanya, ini kan artinya akan ada uang tambahan yang masuk ke kita. Simpelnya begitu saja," ujarnya.

Secara perlahan, dia percaya kultur masyarakat Jepang itu juga akan ditiru oleh sebagian masyarakat Indonesia. Anak-anak menitipkan orang tua mereka di rumah jompo demi mendapatkan perawatan dan perhatian lebih baik.

"Saya dan istri pun sudah berpikir seperti itu karena anak-anak dan cucu kan komunikasi sudah gak nyambung. Tapi kalau tinggal di rumah jompo, kita yang sama-sama tua ini bisa saling komunikasi mengenang masa muda. Kecenderungan orang tua kan seperti itu, ngomongin masa lalunya," ujar Enggartiasto.

Hanya saja sejauh ini anggapan bahwa menitipkan orang tua ke panti jompo sama dengan membuang mereka sehingga dinilai kurang ajar, bisa kualat, dan berdosa.

Sementara itu Michio Sekine dari perusahaan yang menangani pelatihan para perawat di Jepang mengungkapkan ada satu hal kekurangan perawat dari Indonesia yakni mudah kangen dengan orang tua mereka di kampung halaman. Di era ketika alat komunikasi makin canggih, kata dia, kerap juga terjadi orang tua mereka yang menghubungi dan meminta si perawat pulang dengan alasan kangen.

"Kalau sering seperti tentu saja perawat itu akhirnya jadi kangen dan minta izin untuk pulang," ujarnya.

Dia selalu menasehati para perawat Indonesia yang mengikuti pelatihan bisa lebih bersabar. Dengan begitu tak cuma dia yang akan memiliki masa depan lebih baik karena gajinya cukup besar, keluarga orang yang tuanya dirawat juga tak dipusingkan untuk mencari tenaga pengganti.

"Tolong juga pemerintah Indonesia membantu memberi pengertian agar para orang tua itu tidak terlalu sering meminta anaknya yang bekerja untuk pulang," sebut dia. (jat/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed