Negara Produsen Minyak Didesak Bantu Ringankan Utang Afrika
Senin, 06 Jun 2005 10:41 WIB
Jakarta - Negara-negara produsen minyak didesak mendermakan sebagian penghasilannya yang melonjak tinggi karena kenaikan harga minyak untuk membantu mengangkat negara-negara di Afrika dari lembah kemiskinan. Seruan itu disampaikan Menteri Keuangan Inggris Gordon Brown dalam wawancaranya dengan GMTV seperti dilansir BBC, Senin (6/6/2005). Rencananya, PM Inggris Tony Blair akan bertolak ke Washington pekan ini untuk mengadakan pertemuan dengan Presiden George W Bush guna membahas isu penting ini. Pertemuan itu penting sebagai dukungan terhadap Inggris untuk menggolkan rencananya, menjelang pertemuan G8 pada bulan Juli mendatang yang akan berlangsung di Gleneagles, Skotlandia. Inggris selama ini dikenal giat menyerukan penghapusan utang dari negara-negara miskin di Afrika. Namun langkah ini tidak mendapat tanggapan yang mulus dari rekan sejawatnya sesama anggota G8. "Saya akan senang melihat negara-negara yang telah mendapatkan keuntungan dari naiknya harga minyak dunia itu bersedia untuk memberikan kontribusinya juga kepada agenda pembangunan baru," kata Brown.Bantuan dari negara produsen minyak itu, kata Brown, tidak hanya untuk pembangunan, namun juga keringanan utang dan bantuan internasional lainnya. Mereka juga diharapkan berpartisipasi dalam trust fund Bank Dunia yang akan mampu menolong meringankan utang negara-negara miskin Afrika.Namun Brown juga menekankan perlunya negara-negara Afrika memberantas korupsi yang merajalela di benua itu. Dengan demikian, kata Brown, negara-negara penyumbang akan merasa yakin dana bantuannya tidak terbuang percuma.Sementara harian Observer, seperti dilansir AFP menyebutkan, Inggris berharap bisa mengumpulkan dana sekita US$ 100 miliar melalui sebuah fasilitas keuangan internasional. Kontribusi dari negara-negara Uni Eropa diperkirakan mencapai US$ 80 miliar, dan sisanya diharap bisa ditutup dari AS. Namun tampaknya ada keengganan dari Bush untuk menutup kekurangan itu, sehingga negara-negara penghasil minyak di Teluk, diharapkan menggantikan AS untuk menambal kekurangan itu.
(qom/)











































