Follow detikFinance
Selasa 05 Dec 2017, 18:23 WIB

Cerita Rini yang Suka Cerewet ke Bos-bos BUMN

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Cerita Rini yang Suka Cerewet ke Bos-bos BUMN Foto: Ari Saputra
Tangerang - Menteri BUMN, Rini Soemarno mengungkapkan dirinya kerap rewel kepada sejumlah bos BUMN, contohnya Direktur Utama PT Angkasa Pura II dan Direktur Utama PT Bank BTN (persero) Tbk.

Hal itu diungkapkannya saat menghadiri diskusi di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa (5/11/2017).

Rini mengaku melakukan hal itu agar bisa terus mendorong agar BUMN bisa bekerja lebih baik untuk masyarakat. Rini pun mengatakan dirinya kerap menghubungi Dirut Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin, untuk mengetahui progres pengembangan bandara nasional. Di mana sekarang terjadi backlog bandara yang sudah 20% tertinggal.

"Saya perhatikan masalah-masalah dan rada cerewet. Pak Choliq (Dirut Waskita Karya) pergi ke Korea dengan saya dan bilang diktator. Menurut saya negara kita sedikit terlambat dalam beberapa hal, kita harus mengejar ketertinggalan itu, seperti backlog bandara yang 20% sudah tertinggal," katanya di lokasi.

Dia melanjutkan, ketika melakukan kunjungan kerja ke bandara di Pekanbaru. Angkasa Pura II sampaikan bandara ini akan selesai pembangunan di 2018 dan mampu menampung 4 juta penumpang.

"Tapi saya tanya Pak Awal, berapa jumlah penumpang di bandara Pekanbaru di 2017. Dia jawab 3,6 juta. Gimana saya enggak marah," katanya sambil tertawa.

Tak hanya kepada Dirut Angkasa Pura II, Rini juga kerap cerewet kepada Dirut BTN, Maryono. Rini mengatakan BTN saat ini hanya sebatas membuat fisik rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Hal itu dinilai belum cukup optimal untuk masyarakat.

"Selama ini mereka (BTN) oke bikin rumah sudah, rumah 30 meter persegi. Terus tidak ada fasilitas umum yang benar, padahal rumah ini sering kali untuk keluarga muda, ada anak-anak butuh tumbuh, butuh lapangan untuk main bola. Ini kita programnya kurang. Makanya Pak Maryono saya bilang enggak mau hanya biayai rumah, BTN harus lihat pembiayaan kawasannya," jelasnya.

Menurutnya, pengembangan kawasan di sekitar perumahan juga penting bagi dilakukan. Rini mencontohkan seperti di Singapura, di tahun 70-an tidak masyarakat masih tidur di bedeng-bedeng, tapi lihat program pembangunan rumah mereka. Meski ditempatkan di apartemen, tapi pengembangan kawasannya diutamakan.

"Mereka tinggal di apartemen tapi ada lapangan untuk bermain, kumpul dan beragam. Coba bangun Pak Maryono pikirkan kawasan," kata Rini.

Selain itu, kelemahan pembangunan rumah selama ini adalah tidak ada pembangunan rumah untuk MBR yang ditempatkan di pusat kota. Selama ini pembangunan rumah MBR dilakukan di pinggiran kota yang akses transportasinya pun sulit.

"MBR kan pendapatannya saja rendah, ditempatkan rumah yang jauh. Kita tekankan BUMN harus beri contoh, kalau buat kawasan di kota harus bisa sediakan tempat untuk MBR dekat dengan transportasi dengan harga yang murah. Jadi saya tidak peduli saham BTN naik, yang penting bagaimana ke MBR bisa mendapat rumah yang layak," pungkas Rini. (mkj/mkj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed