Follow detikFinance
Rabu 06 Dec 2017, 17:53 WIB

Mau Produknya Terkenal, UKM Jateng Bisa Pakai Cara Ini

Muhammad Idris - detikFinance
Mau Produknya Terkenal, UKM Jateng Bisa Pakai Cara Ini Foto: Dok Pemprov Jabar
Semarang - Siapa sangka, jika produk tempe kaleng asal Magelang mendapatkan pesanan dari Republik Ceko sebanyak 100 ribu kaleng. Ekspor tempe ke salah satu negara Eropa Timur itu rupanya salah satu produk dari UMKM Jawa Tengah (Jateng).

Kabar produk tempe kaleng yang tembus ke Eropa ini disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melalui akun twitternya. Twit Ganjar itu pun langsung mendapat respon warganet yang penasaran dengan produk unik bermerek Umiyakko Javafood.

Pada twit itu pun kemudian diberi kontak dan cara pemesanannya. Banyak warganet yang mengapresiasi dan mendukung ada produk lokal yang bisa go internasional.

Menurut Ganjar, produsen makanan ataupun kerajinan lokal di Jateng sebenarnya sudah sejak lama berkesempatan mempromosikan produknya di akun-akun media sosial miliknya. Dirinya dengan sukarela menyediakan akunnya untuk di-endorse perajin lokal.

"Nanti yang mention di twitter sepertinya bisa semuanya langsung saya retweet atau tambahi komentar. Kalau Instagram ya harus dipilih dulu mana yang saya suka itu yang direpost," kata Ganjar dalam keterangan tertulisnya, Rabu (6/12/2017).

Ganjar sejauh ini memiliki akun di twitter @ganjarpranowo dengan follower di atas 1 juta, Instagram @ganjar_pranowo follower 380 ribu, dan Facebook di fanpage Ganjar Pranowo dengan 235 ribu follower. Ketiganya boleh dimanfaatkan untuk promosi produk-produk andalan pelaku UMKM.

Caranya, untuk twitter dan Instagram harus posting dengan tagar #JatengGayeng dan mention atau tag akun gubernur. Sedangkan Facebook bisa langsung memasukkan foto produk di kolom komentar postingan gubernur.

Dia mengatakan, followernya tidak hanya dari Jateng, tapi juga seluruh Indonesia bahkan luar negeri. Dengan promosi di akunnya, akan membantu persebaran informasi produk kerajinan Jateng lebih luas. Asyiknya lagi, Ganjar tidak memungut biaya alias gratis.

"Ya gratis lah, mosok mbayar," ujar gunernur berambut putih ini.

Selama ini, lanjut Ganjar, dirinya sudah berperan sebagai sales produk lokal Jateng. Jika ada produk yang ditawarkan kepadanya lewat twitter, dirinya akan meretweet atau bahkan memesan jika suka.

"Sebagian baju batik saya itu belinya dari pengrajin yang mention saya di twitter. Bahkan ada satu batik dari Blora yang sekarang dikenal dengan 'Batik Ganjar' hanya gara-gara saya beli dan ikut promosi," ucap Ganjar.

Ketika senggang, dia mengaku acapkali jalan-jalan dengan sepeda mencari warung kecil yang enak di Semarang. Misalnya mampir di warung mie ayam, bakso, gudeg, dan soto pinggir jalan.

"Sengaja pas makan saya foto lalu posting. Besoknya dapat laporan kalau warungnya jadi laris, ya Alhamdulillah berarti berkah," tambahnya.

Selain itu, Ganjar juga menyulap ruang kerjanya di Gubernuran dan ruang tamu di rumah dinas Puri Gedeh sebagai etalase produk kuliner Jateng. Pada lemari-lemari kaca di dua tempat itu diletakkan bermacam makanan kemasan dari berbagai daerah di Jateng.

"Sengaja saya pajang agar bisa pamer pada tamu dari luar provinsi atau luar negeri. Kalau mereka mau tak suruh mengincipi, nantinya kalau suka kan terus beli sendiri," ungkapnya.

Sementara itu, General Manager Umiyakko Javafood yang memproduksi tempe kaleng, Kusuma Winata Jati, mengatakan sudah sekitar enam bulan ini dirinya sering diajak pameran oleh Dinas Koperasi dan UMKM Jateng, baik tingkat nasional maupun internasional. Ia pun mengaku senang produknya bisa ikut dipromosikan oleh Ganjar.

"Saya senang produknya bisa di twitkan dan dipromosikan Pak Ganjar, ini bentuk kepedulian pejabat daerah. Jadi kami sebagai warga Jateng merasa tidak sendiri karena ternyata ada yang peduli jadi merasa diayomi," tutur Kusuma.

Kusuma menceritakan, tempe kaleng ini sudah diproduksi sekitar tiga tahun lalu. Namun untuk memproduksinya membutuhkan riset yang cukup lama. Riset dilakukan sejak 2007 dan sempat vakum beberapa saat sebelum akhirnya diproduksi dan dipasarkan.

Saat ini, tempe kaleng itu memiliki empat varian yakni tempe bacem, tempe gurih, tempe kari dan produk baru berupa tempe terik.

"Olahan tempe ini bisa langsung dimakan dan tahan hingga 15 bulan, jadi bisa dibawa kemana-mana," kata Kusuma. (ega/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed