Follow detikFinance
Kamis 07 Dec 2017, 12:48 WIB

Susi Marah-marah di Peringatan Hari Anti Korupsi

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Susi Marah-marah di Peringatan Hari Anti Korupsi Foto: Eduardo Simorangkir/detikFinance
Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, memberikan sambutan saat menghadiri peringatan Hari Anti Korupsi Internasional di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Di depan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode Muhammad Syarief, seluruh pejabat eselon I dan para pegawai KKP, Susi memberikan sambutan selama hampir 30 menit.

Dalam waktu 30 menit itu, Susi tampak sangat berapi-api dan penuh semangat. Di awal pidato, Susi menyampaikan, kebijakannya dalam penenggelaman kapal bukan karena kemauannya tapi amanat dalam Undang-Undang yang harus dijalankan demi terciptanya masyarakat kelautan dan perikanan yang sejahtera, sama seperti tema hari anti korupsi internasional yang diusung KKP hari ini.

"Apa yang saya lakukan untuk tenggelamkan kapal itu bukan Susi idea, bukan Presiden idea. Itu ada dalam Undang-undang kita. We execute ini karena itu satu-satunya jalan untuk memutus mata rantai yang selama ini membokong tangan kita di belakang," tegas Susi di Gedung Mina Bahari III KKP, Jakarta, Kamis (7/12/2017.

Susi juga mengingatkan, praktik KKN bisa berdampak buruk terutama dapat memperlambat gerak bisnis sektor kelautan dan perikanan di Indonesia. Namun, dengan segala kebijakan yang dilakukannya selama ini, Susi mengaku justru dianggap gila dan salah.

"Malah semua cari pasal hukum apa yang dilanggar sama menteri gila ini," ucapnya dengan nada heran.

Belum lagi dengan penghematan anggaran. Dalam 3 tahun, KKP berhasil melakukan efisiensi sebesar Rp 8 triliun. Dia mengakui hal itu memberikan ketidaknyamanan pada sebagian orang, tapi itu perlu dilakukan demi merubah kebiasaan yang boros dan inefisiensi belanja.

"Dalam penghematan anggaran ini, kita juga bisa banyak pakai hal lain. Saya enggak gembira bisa cut anggaran segitu banyak. Tapi selama ini kita cuma pikir anggaran itu harus habis. Perubahan paradigma itu harus ada. Kalau tidak, defisit kita akan semakin besar, utang makin banyak, belum lagi kewajiban bayar bunga utang dan lain-lain. Ini bisa berdampak kepada leverage perekonomian bangsa kita," ucap pemilik Susi Air ini dengan nada tinggi.


Dengan suaranya yang berat, Susi terus melanjutkan pidatonya. Suasana di dalam ruangan tampak hening saat wanita kelahiran Pangandaran itu menyampaikan keluh kesahnya, dengan nada tinggi yang terkesan seperti orang marah.

"Tidak mudah menjadi orang seperti saya yang dibenci banyak orang. Tapi saya happy. Kalau sampai hari ini saya masih happy, itu karena saya merasa saya masih punya diri saya. Baik ke Presiden, DPR dan anda semua," kata Susi.

"Mentalitas anti korupsi, gratifikasi harus kita tanamkan di diri kita. Happy doing good. Just simple thing, tapi itu pilar negara awal. Bukan saya tidak punya rasa takut, tapi saya punya pikiran, apa yang harus benar, ya harus benar," tegasnya. (eds/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed