Ekonom Institute For Economic and Development Finance (Indef) Bima Yudhistira mengatakan, hal ini akan berdampak untuk dua hal secara ekonomi kepada Indonesia. Pernyataan Trump tersebut dinilai akan membawa dampak positif ke harga komoditas yang akan naik. Naiknya harga komoditas yang selama ini jadi andalan ekspor sebagai sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia pun dipercaya akan membawa pengaruh ke daya beli masyarakat.
"Ketika harga komoditas (minyak mentah) naik, daya beli masyarakat di tempat-tempat penghasil komoditas diharapkan pulih lebih cepat. Artinya orang akan lebih banyak kredit kendaraan bermotor nanti. KPR akan tumbuh," katanya saat ditemui di Auditorium Perbanas, Jakarta, Kamis (7/12/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun di satu sisi, pernyataan kontroversial Trump itu juga akan membawa pengaruh negatif pada Indonesia. Karena pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel akan menimbulkan potensi pecahnya perang di Timur Tengah yang akan berpengaruh kepada produksi minyak dunia.
Hal ini akan membuat harga minyak dunia naik, sementara subsidi energi Indonesia di APBN 2018 diperkirakan tak mampu menopang naiknya harga minyak dunia tadi.
"Karena kita net importir minyak, bukan eksportir minyak lagi, yang terjadi adalah, subsidi energi kita bisa kuat atau enggak sampai akhir 2018. Karena di asumsi APBN 2018 kita cuma US$ 48 per barrel, sementara diprediksi bisa tembus sampai US$ 80 per barrel," jelas Bima.
Bima sendiri berpendapat, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan bisa mencapai 5,1%. Pendorongnya tahun depan diperkirakan akan banyak ditopang oleh ekspor lewat harga komoditas yang naik.
"Tahun depan pertumbuhan kita targetkan syukur kalau bisa tumbuh 5,1% karena konsumsi masyarakat masih lemah. Tapi yang bisa nolong pertumbuhan tahun depan the only one adalah ekspor karena harga komoditas tadi naik," pungkasnya. (eds/zlf)











































