Penjualan Saham Cemex di Semen Gresik Harus Diwaspadai
Selasa, 07 Jun 2005 11:07 WIB
Jakarta - Rencana Cemex untuk menjual 25 persen sahamnya di Semen Gresik perlu diwaspadai dan disikapi dengan hati-hati. Alasannya, rencana penjualan itu hanya dilontarkan oleh Menko Perekonomian Aburizal Bakrie, dan bukan dari pernyataan resmi Cemex.Bahkan Kementerian Negara BUMN yang selama ini ditunjuk sebagai pemimpin untuk menyelesaikan persoalan antara Cemex dan pemerintah Indonesia juga tidak mengetahuinya. "Sebaiknya kita bersikap hati-hati dan waspada, kalau memang itu benar, akan sangat menarik, yang jelas skemanya harus jelas," kata Luthfi Subagio, juru bicara pemegang saham independen Semen Gresik dalam siaran pers yang diterima detikcom, Selasa (7/6/2005). Saat ini komposisi kepemilikan saham Semen Gresik adalah pemegang saham independen publik (24 persen), Cemex (25 persen) dan pemerintah (51 persen).Berkenaan dengan minat pemerintah untuk membeli saham Cemex di Semen Gresik, Luthfi mengingatkan soal komposisi saham yang dimiliki Cemex. Saham Semen Gresik yang dijual pada Cemex lewat CSPA, pada September 1998 hanya 14,53 persen, selebihnya mereka ambil dari pasar saham. "Jadi kalau pemerintah harus beli, yang wajib beli ya hanya 14,53 persen itu," tambahnya. Luthfi juga mengaku dirinya trauma dengan pernyataan Aburizal Bakrie soal rencana Cemex menjual saham. Hal itu dikarenakan Aburizal beberapa kali membuat pernyataan yang tidak tepat. Seperti misalnya, pada September 2004 lalu, Aburizal pernah membuat penyataan yang meminta agar Pabrik Tuban I, II dan III dilepas untuk Cemex. Padahal, padahal Pabrik Tuban I dan II adalah pabrik yang baru yang sangat efisien sedangkan pabrik Tuban III bukan punya Semen Gresik. "Kami menghormati mediasi RI dan Cemex yang dilakukan Pak Ical, tetapi kalau salah kan susah. Ini bisnis, butuh semuanya jelas," ujarnya. Jika pernyataan dari pejabat pemerintah tidak jelas, menurut Luthfi, dikhawatirkan ada skema-skema penjualan yang berpotensi public liar. "Misalnya soal penjualan itu, Semen Gresik saat ini berencana bikin pabrik baru, jangan-jangan nanti pemerintah langsung mau menukar saham Cemex dengan pabrik baru itu, bisa runyam," tambah Luthfi. Semen Gresik saat ini sudah mengantongi izin pembangunan pabrik baru dari Menteri BUMN. Berkenaan pendirian pabrik baru ini, Luthfi meminta hal itu segera direalisasikan."Dari laporan keuangannya, perusahaan sangat memungkinkan karena balance sheet-nya kuat, dan saat ini tidak sulit memperoleh pembiayaan, dan dilihat dari sisi apa pun memang harus membuat pabrik baru, untuk mengantisipasi permintaan yang terus meningkat," urainya.
(qom/)











































