Follow detikFinance
Selasa 12 Dec 2017, 11:34 WIB

Data-data Ini yang Buat Jokowi Yakin Ekonomi RI Jauh Lebih Baik

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Data-data Ini yang Buat Jokowi Yakin Ekonomi RI Jauh Lebih Baik Foto: Presiden Jokowi dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Selatan. (Bagus-detikcom)
Jakarta - Keyakinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terhadap perekonomian Indonesia bukan semata-mata tanpa alasan. Ada segudang data sebagai indikator bahwa ekonomi nasional sudah lebih baik dari beberapa tahun terakhir.

Jokowi memaparkan data tersebut dalam acara Sarasehan 100 Ekonom di Hotel Sahid, Jakarta Pusat, Selasa (12/12/2017).

Mulai dari ekonomi kuartal III-2017, tumbuh sebesar 5,06%. Ini ditopang oleh ekspor yang tumbuh 17,2%, investasi 7,11%, konsumsi lembaga non profit 6,01% dan konsumsi rumah tangga 4,93% serta konsumsi pemerintah 3,46%.

Berdasarkan sektoral, maka pertumbuhan tertinggi ada di sektor informasi dan komunikasi dengan 9,8%.

Jokowi melanjutkan dengan data yang menggambarkan makin tingginya transaksi perdagangan di dalam negeri. Adalah penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang tumbuh 12,1%.

"Artinya kalau PPN tumbuh 12,1% di situ ada transaksi, ada kegiatan ekonomi yang dipotong PPN-nya," ungkap Jokowi.


Ekonomi Indonesia juga didukung oleh peningkatan kedatangan wisatawan mancanegara (wisman). Dalam catatan Jokowi, ada 10,46 juta orang wisman sampai kuartal III-2017 atau naik 25,05% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Data ekspor, kata Jokowi bila dilihat lebih spesifik terdapat peningkatan yang signifikan. Selama Januari-September 2017 mencapai US$ 123,36 miliar atau naik 17,36%. Faktor penopangnya adalah ekspor non migas yang naik 17,37% jadu US$ 125,6 miliar.

"Ini sebuah catatan yang saya terima, ini sebuah rekor bahkan lebih tinggi pencapaiannya dibanding saat commodity boom. Ini jadi catatan kita semuanya," terangnya.


Data-data tersebut yang kemudian membuat Indonesia mendapatkan pujian dari internasional. Tiga lembaga pemeringkat dunia Fitch, S&P dan Moody's memberikan label investment grade, yang sudah ditunggu-tunggu belasan tahun lamanya.

Bank Dunia selanjutnya menaikkan peringkat kemudahan berinvestasi di Indonesia atau ease of doing business (EODB) menjadi peringkat 72.

"Menurut saya itu sebuah lompatan yang sangat pesat. Tapi target saya memang bukan 72, saya sudah perintahkan ke Menko Perekonomian, targetnya 40 di 2019," papar Jokowi.

"Melihat angka seperti ini apa artinya? Menurut saya, kita harus optimis. Negara lain melihat kita saja optimis melihat perkembangan ekonomi kita, kenapa kita sendiri malah tidak optimis," tegasnya. (mkj/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed