RI Impor Barang US$ 15 Miliar di November, Salah Satunya Bom

Hendra Kusuma - detikFinance
Jumat, 15 Des 2017 13:38 WIB
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Nilai impor Indonesia pada November 2017 mencapai US$ 15,15 miliar atau naik 6,42% dibandingkan Oktober tahun ini. Sedangkan dibanding dengan periode yang sama di tahun sebelumnya melonjak 19,62%.

Jika dilihat dari seluruh sektor penggunaan barang impor, yakni konsumsi, bahan baku/penolong, maupun barang modal mengalami peningkatan baik secara bulan ke bulan (mtm) maupun tahun ke tahun (YoY).

Khusus untuk konsumsi, terdapat beberapa produk yang di impor Indonesia, seperti bom, granad, torpedo yang merupakan kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Selanjutnya ada susu/cream, mesin pendingin/AC, industri tepung, kopi instan.

Deputi Bidang Statistik, Distribusi dan Jasa BPS, Yunita Rusanti mengatakan, untuk impor bom memang sudah menjadi hal yang biasa lantaran untuk memenuhi kebutuhan alutsista nasional.

"Konsumsi alutsista, sudah biarin aja, sudah biasa," kata Yunita di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Jumat (15/12/2017).

Impor menurut penggunaan barang untuk konsumsi sebesar US$ 1,36 miliar atau naik 8,22% (mtm) sedangkan YoY tumbuh 31,15%.

Selain itu, Yunita menjelaskan, kebutuhan barang konsumsi menjelang akhir tahun memang trennya selalu mengalami peningkatan. Dirinya mencontohkan seperti impor hasil minyak.

"Sebetulnya proses lebih lanjut dari minyak mentah, minyak mentah kita kita ekspor, giliran hasil minyak kita impor, berarti apa pengolahan lebih lanjut untuk dapat hasil," jelas dia.

Jika dilihat, impor bom, granad, torpedo pada November 2017 nilainya US$ 12,5 juta atau tumbuh US$ 10,0 juta atau 400% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar US$ 2,5 juta.

Sementara itu, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, impor non migas berdasarkan golongan barang HS 2 digit paling tinggi adalah mesin-mesin/pesawat mekanik dengan nilai US$ 378,5 juta, lalu mesin/peralatan listrik nilainya US$ 168,2 juta, dan perangkat optik nilainya US$ 77,9 juta.

"Sedangkan yang mengalami penurunan itu gandum-ganduman, gula dan kembang gula, kapas, buah-buahan, dan biji-bijian berminyak," kata Suhariyanto. (mkj/mkj)