Follow detikFinance
Sabtu 16 Dec 2017, 13:25 WIB

Radius 10 Km dari Kawah Gunung Agung Aman Dikunjungi

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Radius 10 Km dari Kawah Gunung Agung Aman Dikunjungi Foto: Penampakan Gunung Agung pagi ini (@Sutopo_BNPB/Twitter)
Jakarta - Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudy Suhendar menegaskan, meski Gunung Agung saat ini masih berada di level IV (AWAS), namun di luar radius 10 kilometer (km) dari kawah Gunung Agung, Pulau Bali aman untuk dikunjungi. Aktivitas di luar radius bahaya dapat berjalan dengan normal.

"Badan Geologi menyampaikan yang terdampak hanya sekitar Gunung Agung saja dengan radius 8 hingga 10 km-an. Jadi kalau mau yang ke Denpasar, Danau Batur, Ubud, di luar radius 10 km, aman. Silakan datang ke Bali. Adapun kalau terjadi erupsi sudah dilokalisir potensi bahayanya hanya terjadi di Gunung Agung saja. Kalau terjadi awan panas hanya di sekitar Gunung Agung, tidak sampai Denpasar dan kemana-mana," papar Rudy dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Sabtu (16/12/2017).

Sebagaimana diketahui, Gunung Agung dinaikkan kembali status aktivitasnya menjadi Level IV (Awas) pada tanggal 27 November 2017 pukul 06:00 WITA.

Pos Pengamatan Gunung Agung milik Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian ESDM, terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan berbagai pihak.

"Kami terus melakukan pengamatan setiap menitnya, melakukan analisis dari jam ke jam sampai hari ini, 24 jam setiap hari. Kita juga telah melakukan simulasi apabila terjadi awan panas, kemana sih awan panasnya itu? Hanya di sekitar Gunung Agung," tambah Rudy.

Pemantauan Gunung Agung juga dilakukan menggunakan peralatan yang sangat mumpuni, termasuk terlengkap di Indonesia, sebagaimana peralatan yang digunakan untuk memantau gunung api di seluruh dunia.

"Kita punya instrumen untuk memantau. Untuk visualnya ada CCTV, Digital dan Thermal Camera, alat seismik. Alat seismik untuk Gunung Agung terpasang 11 set, untuk Gunung Batur 4 set, karena ini bisa saling melengkapi," ujar Rudy.

Selain itu, untuk memantau deformasi (perubahan bentuk) tersedia 5 set GPS dan 2 set tiltmeter. Sebanyak dua sensor temperatur untuk mengukur gas ada DOAS Scanner dan MultiGAS. Data-data satelit juga digunakan untuk mengukur deformasi, energi termal dan konsentrasi gas, untuk mengetahui setiap perubahannya.

"Bahkan kita juga menerbangkan drone yang mampu mengambil foto, merekam video hingga mengukur gas magmatik. Untuk mendapat informasi rutin aktivitas Gunung Agung, kami juga punya aplikasi MAGMA Indonesia yang sudah bisa diakses dari seluruh dunia. Ini sangat lengkap. Alat-alat dan aplikasi yang digunakan sudah setara dengan pengamatan modern gunungapi di seluruh dunia, dengan ini upaya mitigasi bencana erupsi Gunung Agung menjadi lebih optimal," terang Rudy. (ara/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed