Follow detikFinance
Senin, 18 Des 2017 18:50 WIB

Pemerintah Diminta Rayu China Cabut Travel Warning ke Bali

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: (Irwan Reza Pahlevi/ dTraveler) Foto: (Irwan Reza Pahlevi/ d'Traveler)
Tangerang - Meletusnya Gunung Agung di Denpasar mengganggu iklim pariwisata di Bali. Bahkan ada beberapa negara yang menerapkan peringatan perjalanan atau travel warning ke Bali.

Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) Pahala N Mansury berharap agar pemerintah bisa melakukan komunikasi dengan beberapa negara tersebut khususnya China. Sebab menurut catatan Garuda, penumpang dari China ke Bali cukup besar.

"Yang perlu dipastikan bahwa negara-negara yang sekarang menetapkan travel warning ke Bali, itu bisa diyakinkan. Kita harapkan adanya dukungan dari pemerintah untuk bisa meyakinkan pemerintahan di negara lain khususnya China. Karena China ini merupakan pasar yang cukup besar dan saat ini terdapat travel warning dan kita berharap ini bisa diperjuangkan," tuturnya di Terminal 3 Bandara Soetta, Tangerang, Senin (18/12/2017).

Pahala mencatat, selama terjadi meletusnya Gunung Agung di Denpasar, jumlah penumpang internasional Garuda Indonesia sudah turun sekitar 10-15%. Untuk negara di Eropa sendiri pangsa pasar Garuda Indonesia penerbang ke Bali mencapai 50% sementara dari China mencapai 40%.

Untuk penumpang domestik sendiri diakuinya juga cukup berpengaruh. Jumlah penumpang domestik menuju ke Bali juga menurun meski dirinya tidak menyebutkan persentase penurunannya.

Meski begitu, maskapai pelat merah tersebut tetap melakukan penambahan kapasitas kursi pesawat menuju ke Bali untuk periode libur Natal dan Tahun baru. Hal itu demi mengantisipasi jika ada kenaikan jumlah penumpang saat musim liburan.

Pihaknya akan menambah 73.158 kursi tambahan (extra seat) selama libur Natal dan Tahun Baru untuk penerbangan domestik dan internasional. Tambahan kursi tersebut akan dilakukan selama periode 20 Desember 2017 hingga 6 Januari 2018.

Dari jumlah penambahan kursi pesawat tersebut sebanyak 22.758 kursi tambahan pada layanan penerbangan Garuda Indonesia dan 50.400 kursi tambahan pada layanan penerbangan Citilink.

Adapun frekuensi penambahan kapasitas layanan penerbangan tambahan tersebut terdiri dari sedikitnya 108 frekuensi penerbangan Garuda Indonesia dan lebih dari 140 frekuensi penerbangan Citilink. Selain itu perseroan juga akan mengoperasikan lebih banyak pesawat berbadan lebar (wide body).

Untuk penambahan kapasitas penerbangan Garuda Indonesia melalui penerbangan ekstra akan diterapkan pada rute-rute penerbangan domestik dan internasional dengan trafik penumpang tinggi, di antaranya Jakarta–Denpasar, Jakarta–Medan, Surabaya-Denpasar, Medan-Gunung Sitoli dan Jakarta–Osaka.

Sementara untuk pengoperasian pesawat besar akan dilakukan pada 6 sektor penerbangan Garuda Indonesia yang terdiri dari rute penerbangan Jakarta-Denpasar, Jakarta–Medan, Jakarta–Labuan Bajo, Jakarta–Kuala Lumpur, Jakarta–Hong Kong dan Jakarta-Bangkok.

Sedangkan untuk Citilink ada tambahan di 6 sektor penerbangan yang terdiri dari Jakarta–Malang, Jakarta-Yogyakarta pp, Jakarta–Semarang, Jakarta–Solo, Jakarta–Denpasar, dan Surabaya–Denpasar. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed