Berparas Cantik atau Tampan, Cukupkah Buat Bisnis Laris?

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Selasa, 19 Des 2017 08:13 WIB
Foto: Wisma Putra
Jakarta - Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah sosok wanita sontak viral di media sosial lantaran berhasil memikat para netizen dengan paras cantiknya.

Bukan semata-mata karena paras cantiknya saja, tapi sesuatu dinilai menjadi tak wajar lantaran profesinya sebagai penjaja makanan atau pelayan warung makan dirasa berbeda dengan yang lain.

Sebut saja sosok teh Ninih, seorang penjual getuk yang berada di kawasan Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, yang bisa terus tampil cantik meski sepanjang hari berjualan di ruang terbuka bahkan jalanan. Lewat wanita asal Indramayu tersebut, makanan tradisional khas Jawa Tengah itu pun makin dikenal.

Kemudian ada pula Andita Lela Karlita, seorang pelayan kedai kopi di Jawa Timur. Lewat paras cantik dan penampilan fisik menawan yang dimilikinya, para netizen atau pegiat media sosial pun sukses dipikatnya dan membuat sosoknya viral hingga ke pemberitaan media masa.

Terakhir, adalah seorang gadis asal Bandung bernama Tati Rosmiati (27), warga Saparako, Kecamatan Majalaya. Wanita yang berjualan bubur menggunakan gerobak yang mangkal di Jalan Raya Majalaya-Rancaekek ini populer lewat salah satu postingan akun media sosial di Instagram.

Lantas, seberapa kuatkah sebenarnya paras cantik yang dimiliki para wanita ini untuk mendukung bisnis yang dijalankannya? Benarkah bisnis yang dijalankannya bisa sukses dengan modal tampang cantik yang dimilikinya?

Pakar pemasaran sekaligus Presiden MarkPlus&Co, Hermawan Kartajaya mengatakan kecantikan sebenarnya adalah model pemasaran yang telah dilakukan sejak dulu. Menurutnya, visual memang selalu jadi hal penting dalam unsur daya tarik sebagai penarik minat para konsumen yang diincar menjadi pelanggan.

"Dari dulu sebelum ada internet, perempuan itu selalu punya daya tarik sendiri kalau jualan. Karena pengambil keputusannya kan sebagian besar masih laki-laki. Jadi perempuan itu pasti lebih menariklah," katanya kepada detikFinance saat dihubungi detikFinance di Jakarta, Selasa (19/12/2017).

Viralnya para penjaja makanan berparas cantik itu di media sosial juga menjadi bukti bahwa penampakan menjadi satu daya tarik utama yang paling penting di zaman serba digital seperti sekarang.

"Kalau zaman internet, itu ada yang namanya 5A. Awarness, Appealing, Asking, Acting, dan Advocate atau mau meng-endorse. Di sini, cewek cantik itu punya pengaruh pada appealing itu. Tapi musti ada ask-nya itu. Ketika orang nanya, cewek itu juga mesti pinter. Jangan sampai cuma cantik tapi enggak pinter," ujarnya.

"Jadi cantik itu harus karena daya tariknya harus ada. Tapi kemudian kalau enggak ada kontennya, enggak boleh. Nanti backfire. Kok ayu tapi goblok. Kayak opo?," sambung pria berusia 70 tahun tersebut seraya tertawa.

Dia meyakini, penampakan atau penampilan fisik menjadi modal penting dalam upaya memasarkan bisnis yang dijalankan. Namun, cantik saja tidak cukup. Perlu kepribadian yang baik dari orang tersebut untuk memastikan usaha yang dijalankannya bisa sukses memikat banyak orang. Tak hanya untuk masyarakat biasa, hal yang sama juga berlaku untuk kalangan artis sekalipun.

"Jadi harus pinter juga toh. Artis kalau cuma begitu tok, enggak pinter, enggak dihargain orang. Orang harus cantik dan harus dihargai orang. Harus seimbang antara fisik dan intelektual. Jadi konteks dan konten harus ada ya. Cantik itu konteksnya, pinter itu isinya," pungkasnya. (eds/mkj)