Follow detikFinance
Selasa, 19 Des 2017 13:07 WIB

Sri Mulyani Ramal 8 Tahun Lagi Jawa Bakal Penuh Sesak

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Ardan Adhi Chandra Foto: Ardan Adhi Chandra
Jakarta - Pertumbuhan urbanisasi di Indonesia menjadi yang paling cukup tinggi dengan level 4,1% per tahun dibandingkan dengan China yang sebesar 3,8% dan India yang sebesar 3,1%.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, dengan pertumbuhan urbanisasi yang cepat, maka diproyeksikan pada 2025 Pulau Jawa akan penuh perkotaan.

"70% populasi atau penduduk Indonesia akan hidup di perkotaan di 2025. Kurang dari 8 tahun lagi dari sekarang. Jadi kami bisa melihat di 2025 saat semua transportasi sudah kami buat. Pulau Jawa akan penuh perkotaan, urbanisasi yang cukup tinggi akan mendorong konsumsi, juga modal pertumbuhan berkelanjutan," kata Sri Mulyani saat acara Seminar Urbanisasi di Shangrila Hotel, Jakarta, Selasa (19/12/2017).

Sri Mulyani memaparkan, pertumbuhan urbanisasi di Indonesia sebesar 4,1% per tahun harus dibarengi dengan menyelesaikan ketidakseimbangan akibat urbanisasi. Sebab, pada 2045 Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar kelima di dunia, populasinya sudah mencapai 300 juta atau naik 50 juta dengan usia produktif mencapai 52% dari total atau 165 juta di usia produktif, kelas menengah tumbuh 82% atau sekitar 246 juta populasi.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), Sri Mulyani menuturkan, pada 2045 juga pendapatan per kapita Indonesia mencapai Rp 390 juta atau US$ 30.000 dari yang saat ini sebesar Rp 46 juta.

"Indonesia akan capai banyak keuntungan dari urbanisasi. Indonesia punya keuntungan paling rendah dari urbanisasi dalam hal PDB per kapita. Karena banyak penduduk Indonesia yang tinggal di kota hadapi kemacetan, populasi, bencana akibat infrastruktur yang tidak cukup. Maka pemerintah Indonesia fokus bagaimana meningkatkan infrastruktur terutama transportasi umum," tambah dia.


Menurut Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini, dibutuhkan investasi sebesar Rp 5.400-an triliun selama lima tahun untuk mengejar ketertinggalan pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Pasalnya, infrastruktur menjadi modal pemulus aktivitas atau kegiatan apapun yang berhasil berdampak pada perekonomian Indonesia, salah satunya urbanisasi.

Menurut dia, urbanisasi menjadi awal pengelompokan masyarakat berdasarkan pendapatannya. Di mana, masyarakat yang hijrah dari desa ke kota nantinya akan memiliki penghasilan yang lebih dengan catatan seluruh infrastrukturnya tersedia.

"Pem lebih dari Rp 5.400 triliun kebutuhan untuk bangun infrastruktur yang tidak mungkin dibangun pemerintah sendiri.

Untuk mengejar ketertinggalan, pemerintah terus meningkatkan alokasi anggaran infrastruktur setiap tahunnya. Pembangunan infrastruktur juga menjadi jembatan kesenjangan yang selama ini terjadi antara di bagian Barat dan Timur Indonesia.

"Pemerintah harus menjembatani kesenjangan bagian barat dan timur Indonesia. Pembangunan jalan tol, jembatan, dalam sangat penting untuk mengubah antara daerah dengan pasar dunia. Pemerintah juga sadar bahwa pertumbuhan sangat bersandar pada penanaman modal," tutup dia. (mkj/mkj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed