Target tersebut sempat mengalami satu kali revisi melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan. Sebelumnya adalah 5,1%.
Optimistis itu didukung oleh investasi dan ekspor yang diproyeksi mengalami peningkatan, di samping tetap menjaga konsumsi rumah tangga tetap stabil dan percepatan belanja pemerintah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada kuartal I-2017, perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,01% atau meningkat dibandingkan kuartal-2016 yang hanya sebesar 4,92% namun lebih rendah dari kuartal I-2015 yang sebesar 5,04%.
Hal ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga sebesar 4,93%, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 4,81%, ekspor juga tumbuh menjadi 8,04%, lalu konsumsi pemerintah di level 2,71% atau sedikit melambat dibandingkan periode sebelumnya. Untuk impor tumbuh positif 5,02%, dan konsumsi Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) 5,02%.
Untuk kuartal II-2017, ekonomi Indonesia tumbuh di level yang sama, yaitu 5,01%. Sehingga secara akumulatif hingga semester I tahun ini sebesar 5,01%. Adapun, dilihat dari pengeluarannya, konsumsi rumah tangga berada di level 4,95%.
Sedangkan untuk kuartal III-2017, ekonomi RI tumbuh ke level 5,06% dengan akumulatifnya menjadi 5,03%. Ekonomi RI didukung oleh investasi yang tumbuh 7,11%, ekspor 17,27%, dan tingkat konsumsi 4,93%, konsumsi LNPRT 6,01%, konsumsi pemerintah 3,46%, dan impor 15,09%.
Ekonomi RI Dihantui Ketidakpastian Global
|
Foto: BBC World
|
Apalagi ekonomi Indonesia masih terdampak oleh ketidakpastian global, mulai dari perubahan arah ekonomi China, kebijakan proteksionisme dan rencana pemangkasan pajak AS oleh Presiden Donald Trump, hingga persoalan geopolitik di semenanjung Korea, dan juga Timur Tengah.
Ketidakpastian global terkadang membuat ekonomi terkoreksi ke bawah, karena mempengaruhi keputusan investor. Di sisi lain, hal itu bisa memicu kenaikan harga minyak dunia dan komoditas perkebunan dan pertambangan yang merupakan andalan ekspor Indonesia. Lihat saja ekspor pada kuartal III-2017 tumbuh sampai ke level 17,27%.
Daya Beli Orang RI Lesu?
|
Foto: Danang Sugito
|
Dari berbagai analisa, dapat disimpulkan bahwa masyarakat Indonesia, khususnya kelas menengah atas menahan diri untuk berbelanja. Salah satu alasannya yaitu ketidakpastian politik di Indonesia pada saat Pilkada DKI Jakarta, sehingga memilih untuk menyimpannya di perbankan.
Pada Agustus 2017 total simpanan di bank umum sebesar Rp 5.143,24 triliun. Sementara pada September 2017 sudah naik Rp 83,51 triliun atau 1,61% menjadi Rp 5.225,16 triliun.
Ada juga perubahan prilaku dari yang biasanya gemar berbelanja barang, saat ini sudah beralih ke leisure seperti menggunakan sebagian uangnya untuk pariwisata, dan membeli makan di pusat perbelanjaan.
Ini berlanjut ke kuartal III-2017, konsumsi rumah tangga kembali melambat ke level 4,93% dari yang sebelumnya 4,95%.
Pemerintah cukup yakin ini bukan persoalan lesunya daya beli masyarakat. Bahkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan, daya beli orang Indonesia masih kuat, dengan indikasi penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN) tumbuh 12,1%.
Data pendukung lainnya adalah sektor pariwisata. Turis asing masuk ke Indonesia mencapai 10,46 juta orang atau naik 25%. Sementara di negara-negara lain hanya sekitar 5%.
Kalau menengok kelompok menengah ke bawah alias masyarakat miskin dan rentan miskin justru makin terpuruk. Kondisi yang tidak sesuai dengan keinginan pemerintah yang selalu gencar akan pemerataan ekonomi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip detikFinance, upah rill buruh bangunan turun dari Rp 65.211 per hari pada Januari 2017 menjadi Rp 64.867 per hari di September 2017.
Begitu juga dengan pembantu rumah tangga pada periode yang sama, dari awalnya Rp 380.968 per bulan menjadi Rp 360.968.
Untuk buruh tani memang ada kenaikan dari Rp 37.064 menjadi Rp 37.711. Namun bila dibandingkan pertumbuhannya dibandingkan periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya, periode sekarang sangat rendah.
Usaha Pemerintah Genjot Investasi Berbuah Manis
|
Foto: Rachman Haryanto
|
Presiden Jokowi telah menerbitkan 16 paket kebijakan ekonomi yang ditujukan untuk menggairah iklim investasi di Indonesia.
Dari 16 paket kebijakan ekonomi yang telah diterbitkan sampai dengan tahun ini juga memberikan dampak luas, yakni pada peringkat kemudahan berusaha di Indonesia (ease of doing business/EoDB). Ditargetkan posisi kemudahan berusaha di Indonesia berada di peringkat 40.
Saat ini, peringkat kemudahan investasi Indonesia berada di level 72 dari yang sebelumnya di posisi 91. Peningkatan peringkat dikarenakan konsistensi menjalankan reformasi waktu memulai usaha, mendapatkan sambungan listrik dibuat lebih murah, akses perkreditan. Perdagangan lintas negara semakin baik dan lain sebagainya.
Tidak hanya itu, berkah dari paket kebijakan ekonomi yang juga sebagai komitmen reformasi struktural memberikan lembaga pemeringkat Standard and Poor's (S&P) yang memberikan status investment grade atau kelayakan investasi.
Peringkat utang Indonesia dari BB+ menjadi BBB- yang berarti sudah masuk investment grade. Faktor penyebabnya adalah kredibilitas dari APBN yang mana belanja negara dipangkas dengan sangat signifikan sejak pertengahan tahun lalu agar defisit bisa terjaga. Dari sisi lain ada program pengampunan pajak atau tax amensty yang mendorong penerimaan negara.
Belum lama ini juga lembaga pemeringkat lainnya yaitu Fitch Rating menaikkan peringkat utang RI dari BB-/Outlook Positif menjadi BBB/Outlook Stabil pada 20 Desember 2017.
Dalam penjelasannya, Fitch menyatakan ada dua faktor kunci yang mendukung yang mendukung keputusan tersebut. Pertama, mulai menguatnya sektor eksternal yang didukung oleh kebijakan makro ekonomi secara konsisten yang diarahkan untuk menjaga stabilatas.
Kedua, upaya sinergi pemerintah dalam reformasi struktur yang mampu meningkatkan iklim investasi, seperti tercermin dari meningkatkan peringkat EoDB. Hal ini juga mendorong penguatan sektor eksternal Indonesia seiring dengan meningkatkanya Foreign Direct Investment (SDI) yang diperkirakan dapat menurunkan defisit transaksi berjalan dalam beberapa tahun ke depan.
Bahkan menjelang akhir 2017, pemerintah telah menerbitkan relaksasi impor bahan baku bagi para pelaku Industri Kecil Menengah (IKM).
Terbukti sampai pada kuartal III-2017, realisasi investasi di Indonesia naik 13,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Nilainya Rp 176,6 triliun dari yang sebelumnya Rp 155,3 triliun.
Jika dihitung secara kumulatif dari Januari-September, maka di 2017 ini nilainya Rp 513,2 triliun, masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 453,4 triliun.
Penanaman modal asing (PMA) masih mendominasi capaian tersebut, jumlahnya Rp 111,7 triliun. Sementara sisanya penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 64,9 triliun.
Ekspor RI Kembali Bergairah
|
Foto: dok. TPK Koja
|
Dilihat dari Harga Batubara Acuan (HBA) Kementerian ESDM, bulan Desember 2017 mengalami penurunan menjadi US$ 94,04 per ton dari US$ 94,84 per ton atau turun 0,8%. Angka ini naik jika dilihat daro awal tahun yang berada di level US$ 86,23 per ton.
Sedangkan untuk minyak mentah, dari Januari hingga Mei 2017 rata-ratanya sebesar US$ 49,90 per barel. Sedangkan pada 26 Desember tahun ini berada di level US$ 58,52 per barel.
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor RI yang tumbuh 17,27% di kuartal III tahun ini karena seiring menguatnya perekonomian negara-negara tujuan ekspor, terutama komoditi lemak dan minyak hewan/nabati, sedangkan sektor jasa meningkat seiring peningkatan jumlah wisman.
Dengan berbagai macam upaya yang telah dilakukan pemerintah melalui kebijakannya. Ekonomi RI diramalkan sepanjang 2017 tumbuh ke level 5,05% sampai 5,1% atau lebih rendah dari asumsi APBN-P 2017 sebesar 5,2%.
Pada kuartal IV-2017, pemerintah optimis pertumbuhan ekonomi nasional bisa diatas 5,06%. Pasalnya, investasi dan ekspor pada kuartal sebelumnya berhasil tumbuh di atas ekspektasi.
Proyeksi Akhir Tahun
|
Foto: Rengga Sancaya
|
Realisasi APBN-P 2017 per 15 Desember, realisasi asumsi dasar makro ekonomi per 15 Desember 2017, untuk pertumbuhan ekonomi mencapai 5,03%.
Kemudian tingkat inflasi sebesar 3,3%, suku bunga SPN 3 bulan 5,0%, nilai tukar rupiah Rp 13.377 per US$, harga minyak (ICP) US$ 50 per barel, lifting minyak 796,9 ribu bph, dan lifting gas 1.126,6 ribu setara minyak per hari.
Pemerintah masih cukup optimistis, ekonomi Indonesia secara keseluruhan tahun di kisaran 5,1-5,2%.
Halaman 2 dari 6











































