Ternak AS Positif Terkena Sapi Gila

Ternak AS Positif Terkena Sapi Gila

- detikFinance
Sabtu, 11 Jun 2005 12:08 WIB
Jakarta - Hewan ternak AS dinyatakan positif menderita sapi gila (mad cow) berdasarkan hasil pemeriksaan ulang di laboratorium Inggris. Hasil tersebut untuk menegaskan pemeriksan yang dilakukan oleh Departemen Pertanian AS.Meski demikian, hewan yang dicurigai terkena sapi gila tersebut saat ini belum dikonsumsi atau masuk kedalam makanan olahan lainnya. "Ini semua belum menimbulkan risiko apapun," kata Sekretais Departemen Pertanian AS Mike Johanns, seperti dikutip Reuters,Sabtu(11/6/2005).Penemuan ini merupakan tindak lanjut atas merebaknya penyakit sapi gila atau bovine spongiform encephalopathy (BSE), penyakit yang menyerang otak, yang ditemukan pada Desember 2003 di wilayah peternakan sapi di negara bagian Washington.Sebelumnya pengujian hewan ternak tersebut menunjukkan hasil negatif untuk penyakit sapi gila. Kemudian, Departemen Pertanian AS menguji kembali tiga contoh dalam tiga kali pemeriksaan dengan menggunakan teknologi yang berbebeda. Hasilnya hanya satu yang positif. "Kami belum bisa memastikan apakah kasus BSE telah ada kembali di AS untuk saat ini," kata Kepala Kedokteran Hewan Departemn Pertanian AS John Clifford.Menurutnya, kecurigaan bahwa daging hewan tersebut telah menyebar kembali saat ini belum terbukti. Apalagi, belum ada penjelasan rinci tentang lokasi atau usia dari hewan yang terkena sapi gila tersebut."Karena ini hanyalah sebuah permintaan untuk pengujian kembali untuk menentukan apakah BSE atau bukan," katanya. Pemeriksaan itu dilakukan terhadap contoh jaringan otak yang dikirimkan ke Laboratorium Weybridge Inggris.Ditemukannya kembali sapi gila tersebut dikhawatirkan akan membuat Departemen Pertanian AS mengalami tekanan dari Jepang dan Korea untuk mengembalikan pesanan daging dari AS. Kedua negara tersebut adalah pembeli mayoritas daging AS. Dimana pada tahun 2003 saat ditemukan sapi gila keduanya menghentikan pesanan dagung AS. "Saya tidak percaya kejadian ini akan memberikan dampak terhadap hubungan perdagangan internasional," kata Johanns. (ir/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads