Program ini juga bertujuan untuk mengembangkan pangan lain yang bersumber dari komoditas lokal bernutrisi serta aman untuk dikonsumsi. Apalagi kini pendapatan masyarakat semakin meningkat dan tren hidup sehat yang mengurangi konsumsi beras makin marak.
Kementan mencatat hingga tahun 2017 tren konsumsi beras nasional terus mengalami penurunan. Meskipun tingkat konsumsi beras di Indonesia masih jauh di atas konsumsi negara-negara Asia, seperti Korea, Jepang, Thailand, dan Malaysia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk itu, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur sejak 2016 mulai melakukan pengkajian dan pengembangan sorgum di wilayah Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Lamongan," ujar Kepala BPTP Jawa Timur, Chendy Tafakresnanto dalam keterangan tertulisnya, Selasa (2/1/2018).
Sejak 2016, BPTP Jawa Timur dengan Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian yang didanai SMARTD, telah berhasil merekayasa mesin pengupas kulit biji sorgum (penyosoh) dengan kapasitas 90β110 kg/jam. Maka petani bisa menghemat biaya dan waktu karena tidak perlu lagi merontok biji sorgum.
Beras dan tepung sorgum sangat potensial mendukung program diversifikasi pangan dan ketahanan pangan. Kandungan nutrisi beras sorgum lebih baik jika dibandingkan beras padi.
Kadar protein beras sorgum sebesar 8β10%, sedangkan beras padi sekitar 6%. Kalori (332 kal) dan Index Glicemik (IG) beras sorgum (48) lebih rendah dari pada kalori (357 kal) dan IG (64) beras padi sehingga sesuai bagi konsumen yang menjalankan diet.
Saat ini produk olahan sorgum telah dikembangkan oleh UMKM di Kecamatan Babat, Lamongan dengan produk andalan chicky sorgum. Pemasarannya sudah sampai ke Surabaya, Mojokerto, hingga Makassar. (ega/hns)











































