Follow detikFinance
Selasa 02 Jan 2018, 17:35 WIB

Investasi Pariwisata dan e-Commerce Diprediksi Meroket Tahun Ini

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Investasi Pariwisata dan e-Commerce Diprediksi Meroket Tahun Ini Foto: (Ardian Fanani/detikTravel)
Jakarta - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mengatakan, investasi di sektor pariwisata dan e-Commerce akan menjadi primadona pada tahun 2018. Dia memproyeksi, kedua sektor itu diyakini akan tumbuh lebih tinggi tahun ini menyusul tren positif yang telah ditorehkan pada tahun sebelumnya.

"Jadi sektor e-Commerce tentunya, pertumbuhannya 60% sampai 80% per tahun. Itu baru pertumbuhannya saja. Kemudian pariwisata, investasi ke pariwisata itu pertumbuhannya 35% sampai 45% per tahun," katanya saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (2/1/2018).

Menurutnya, tahun 2018 akan menjadi momentum yang sangat positif bagi investor untuk menanamkan modalnya di sektor e-Commerce atau perdagangan berbasis jaringan internet di Indonesia. Dia bilang, sektor ini akan menyumbang kontribusi investasi nasional yang cukup besar tahun ini.

"Untuk sumbangan kontribusi terhadap pertumbuhan cukup besar. Jadi karena pertumbuhan investasi di e-Commerce 60-80% per tahun, meskipun stock (saham)-nya kecil, tapi pertumbuhannya luar biasa. Jadi kontribusi terhadap pertumbuhan sangat besar meskipun stock-nya masih kecil," ucapnya.

Sementara untuk sektor pariwisata, bidang jasa akan banyak diuntungkan seiring dengan perbaikan infrastruktur pada sejumlah destinasi pariwisata yang telah disiapkan pemerintah. Namun menurutnya, perlu terobosan yang lebih besar lagi di sektor pariwisata untuk memecah bottleneck di sektor ini.

"Misalnya destinasi tertentu yang pertumbuhannya 30% per tahun, kalau bandaranya udah enggak memadai, misalnya Manado, Manado itu perlu modifikasi runway. Kelompok yang pertumbuhannya 15-30% perlu modifikasi runway, supaya pesawat-pesawat bisa masuk. Jadi perlu terobosan untuk benahi bottleneck-bottleneck yang menghalang dari sektor-sektor yang paling dinamis untuk bisa sepenuhnya merealisasikan potensinya. Juga di pelabuhan, dan kemacetan lalu lintasnya yang harus dibenahi," jelas dia.

Lewat dorongan kontribusi kedua sektor itu, dia meyakini tahun ini pertumbuhan investasi di Indonesia bisa tumbuh 10 hingga 14%. Angka ini sendiri tergolong rendah karena harus menghadapi tantangan eksternal dari Amerika Serikat (AS) yang melakukan reformasi perpajakan lewat tax amnesty.

"Saya kira tantangan baru di 2018, Amerika yang baru adakan tax amnesty. Jadi akan menyedot kembali dolar dan modal dari seluruh dunia kembali ke Amerika. Jadi itu sebuah fenomena yang harus dicermati dan perhatikan," ujarnya.

Di samping itu, dia juga meyakini perekonomian nasional akan tumbuh jauh lebih positif tahun ini bersamaan dengan momen Pilkada yang terjadi di tahun ini.

"Karena terjadi stimulus dari spending kampanye, konsumsi kaus, spanduk, iklan. Semua acara-acara kampanye selalu ada makanan minuman, gathering, jasa angkutan, jasa penginapan, kebersihan. Hampir bagi semua negara tahun politik itu stimulatif terhadap ekonomi. Tahun politik itu tahun yang baik untuk ekonomi dan investasi," pungkasnya. (eds/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed