Follow detikFinance
Rabu, 03 Jan 2018 14:46 WIB

Arab Saudi Tarik Pajak 5%, Pengusaha Alihkan Impor dari Negara Lain

Trio Hamdani - detikFinance
Foto: Tim Infografis, Luthfy Syahban Foto: Tim Infografis, Luthfy Syahban
Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey menanggapi kebijakan Arab Saudi yang menerapkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 5% untuk sejumlah jenis barang di negaranya mulai 1 Januari 2018.

Arab Saudi menarik pajak terhadap sejumlah barang seperti makanan, pakaian, barang elektronik dan bensin, tagihan telepon, air dan listrik, serta pemesanan hotel. Hal itu akan berdampak pada kenaikan harga-harga.

Dengan naiknya harga akan membuat daya siang ekspor produk milik Arab Saudi ke luar negeri turun terhadap negara lainnya yang juga melakukan ekspor.


"Kalau kaitan dengan daya saing produk ya jelas otomatis akan menambah nilai harga, dan nilai harga itu kan berarti impor barang dari Arab itu akan bertambah dan harga juga akan terjadi eskalasi baru, ada peningkatan eskalasi dan ini akan berdampak kepada kemampuan konsumen untuk belanja produk Arab itu," katanya saat dihubungi detikFinance, Rabu (3/1/2017).

Dia mengatakan, selama ini pengusaha yang mengimpor barang dari Arab Saudi akan berpikir dua kali. Dia menilai, jika penerapan pajak 5% di Arab Saudi berimbas terhadap kenaikan harga barang, maka pelaku usaha di Indonesia yang mengimpor barang dari Arab Saudi akan memilih impor dari negara lain.

Dengan kata lain, pengimpor dari Indonesia akan memperbarui peta dagangnya, yang sebelumnya memasok barang dari Arab Saudi akan memilih dari negara lain yang harganya jauh lebih sesuai dengan yang diinginkan.

"Udah pasti kalau masalah demand and supply itu sudah berubah otomatis kita akan perbarui juga offeringnya atau ordernya," tambahnya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani melihat penerapan pajak 5% di Arab Saudi tak banyak pengaruhnya dan membuat minat beli barang asal Arab Saudi turun.

"Itu enggak banyak pengaruhnya karena apa? karena di sana itu relatif barang-barangnya itu di sana enggak terlalu mahal, artinya barang-barang di sana itu relatif masih masuk dalam jangkauan," tambahnya. (zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed