Follow detikFinance
Kamis 04 Jan 2018, 08:44 WIB

50 Ritel Diprediksi Tutup di 2018, Ini Alasannya

Trio Hamdani - detikFinance
50 Ritel Diprediksi Tutup di 2018, Ini Alasannya Foto: Danang Sugianto/detikFinance
Jakarta - Pengusaha ritel pada 2018 ini harus memutar otak agar tak kalah saing dan berguguran seperti tahun lalu. Sebut saja 7-Eleven, Lotus, hingga Debenhams, yang tahun lalu harus hengkang dari Indonesia karena tertekan berbagai faktor.

Ditambah, Matahari dan Ramayana juga menutup sejumlah gerainya di beberapa daerah.

Salah satu faktor yang santer terdengar adalah perubahan pola konsumsi masyarakat. Sekarang ini masyarakat dianggap lebih sering belanja pengalaman ketimbang barang. Belanja pengalaman ini biasa disebut leisure, contohnya liburan dan jalan-jalan.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan, saat ini konsep yang cocok diterapkan oleh pebisnis ritel adalah mixed use atau multifungsi karena melihat pola konsumsi masyarakat yang berubah itu.

"Bisnis modelnya menjadi ada macam-macam, tidak hanya department store atau hypermarket aja, tapi juga ada kuliner, ada food court, ada entertainment-nya," katanya ketika dihubungi detikFinance, Rabu (3/1/2018).

Dengan adanya perubahan konsep (reformat) itu, maka tak heran jika tahun ini diperkirakan bakal ada lagi gerai ritel yang tutup. Hanya saja tutupnya gerai tersebut lebih diperuntukkan mengubah konsep atau sekadar relokasi.

Dikatakannya, sejumlah ritel diperkirakan akan tutup tahun ini, tapi itu bertujuan untuk mengubah konsep bisnis.

"Tahun ini melihat dampak dari yang 2017 ini kelihatannya 2018 juga ini akan menjadi hampir sama akan ada beberapa lokasi yang tokonya harus tutup dulu untuk dipindahkan ke lokasi yang baru. Itu pertama. Kemudian kalau pun ada penutupan lagi akan ada yang reformat lagi," jelasnya.

Menurutnya, dengan adanya tuntutan dari konsumen terhadap pemenuhan kebutuhan yang tak sekadar belanja barang, maka wajar jika tahun ini masih ada gerai-gerai yang tutup karena butuh penyesuaian.


"Ini juga bagian daripada teman-teman ritel, sedang memikirkan konsep dan mempersiapkan relokasi-relokasi yang baru yaitu size tidak harus besar sekarang," ujar Roy.

Saat ini, menurut dia ukuran gerai atau format ritel tidak harus besar. Konsumen lebih menginginkan belanja secara cepat, dan apa yang mereka butuhkan dapat terpenuhi, kemudian sesuai harga.

"Sekarang formatnya mungkin dengan ada beberapa yang mengecilkan atau downsize ukuran toko, kemudian karena di downsize ada yang kosong kan (space). Kosongnya itu ditambah dengan food court, kuliner atau ditambah dengan entertainment sehingga konsep yang mixed use dapat terjadi lebih optimal," tambah Roy. (zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed