Dia memangkas pasokan cabai lantaran konsumen juga mengurangi pembelian.
"Biasnaya rawit dan cabai merah besar itu beli 10 kilogram (kg) sehari, sekarang hanya 5 kg. Kalau cabai hijau itu biasa 20 kg sekarang hanya 10 kg," ujar Bono kepada detikFinance di lapaknya, Pasar Mampang Prapatan, Jumat (5/1/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena yang beli memang banyak tapi mereka mengurangi cabai yang dibeli. Misalnya bisa beli sekilo, jadi setengah kilo, karena kan lagi mahal," lanjut Bono.
Bono menjelaskan, kesegaran cabai yang biasanya distok hanya bisa bertahan sampai empat hari. Jika setelah empat hari masih tersisa dan belum terjual, Bono mengolahnya menjadi bumbu olahan.
"Biasanya kan kalau udah nggak segar digiling, bisa jadi bahan bumbu olahan," kata dia.
Senada, pedagang sayuran lainnya di Pasar Mampang Prapatan, Enok, juga mengurangi pasokan cabai dengan alasan sama, konsumen mengurangi pembelian. Enok biasanya mengambil cabai dari Pasar Induk Kramat Jati sebanyak 10 kg per hari, saat ini hanya memasok 5 kg per hari.
Meski mengurangi pasokan, kualitas cabai yang dibeli dari pasar induk dipilih yang terbaik. Selain lebih bagus dari segi bentuk, ketahanan dari proses pembusukan juga bisa dikatakan lebih lama.
"Biasanya bisa lebih dari 4 hari, apalagi kalau cabainya bagus dan kering. Saya biasanya membersihkan cabai dari batangnya kemudian dijemur," kata dia.
Enok menyebutkan cabai dari Pasar induk Kramat Jati perlu dijemur karena masih lembab. Jika dipaksakan jual dalam kondisi lembab akan mempercepat proses pembusukan.
"Kalau enggak dijemur ya, biasanya disimpan di 'ayakan' (tempat anyaman lebar), biar cabainya enggak basah," tutur Enok (hns/hns)










































