Jika Pupuk Langka, Pemerintah Siap Operasi Pasar
Senin, 13 Jun 2005 13:19 WIB
Jakarta - Pemerintah menyatakan kebutuhan pupuk di dalam negeri masih berada di bawah produksi pupuk, sehingga terjadi kelebihan pasokan pupuk. Namun jika terjadi kelangkaan pupuk di tingkat petani, maka pemerintah akan segera melakukan operasi pasar pupuk.Hal ini ditegaskan oleh Menteri Negara BUMN Sugiharto dalam rapat gabungan Komisi IV, VI,VII, IX dan XI DPR RI dengan jajaran menteri di bawah Menko Perekonomian di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (13/6/2005)."Jika memang terjadi kelangkaan pupuk, maka akan segera dilakukan operasi pasar. Kami sudah memberi arahan kepada industri pupuk untuk siap melakukan operasi pasar," kata Sugiharto.Hadir dalam raker itu, Menko Perekonomian Aburizal Bakrie, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Menteri Perindustrian Andung Nitimihardja, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Negara Koperasi dan UKM Surya Dharma Ali, serta Menteri Keuangan Jusuf Anwar.Sugiharto mengakui ada kelangkaan pupuk pada daerah tertentu. Hal itu terjadi karena adanya kesalahan dalam alokasi dan distribusi pupuk. "Ini terjadi akibat perbedaan harga jual pupuk dalam negeri dan luar negeri. Harga pupuk luar negeri berkisar antara US$ 250-260 per ton, sementara di dalam negeri US$ 100-110 per ton," urainya.Dia menilai, terjadinya ekspor pupuk ke luar negeri dikarenakan kebutuhan pupuk di dalam negeri masih di bawah produksi pupuk.Ditegaskan Sugiharto, pemerintah telah menetapkan zero toleransi terhadap kelangkaan pupuk. Artinya, pemerintah akan berusaha semaksimal mungkin agar tidak terjadi kelangkaan pupuk. Untuk itu, pemerintah siap menerima pengaduan masyarakat.Pasokan GasSugiharto juga menyatakan, pemerintah perlu melakukan negosiasi ulang untuk mengurangi ekspor gas ke Jepang dan Korea Selatan. Hal itu dilakukan jika cadangan gas di dalam negeri dirasakan berkurang untuk memenuhi kebutuhan industri pupuk."Kita perlu negosiasikan lagi pasokan gas untuk mereka. Namun secara jangka panjang, pasokan gas itu sebetulnya bisa teratasi setelah lapangan di Blok A Arun, Aceh bisa beroperasi pada tahun-tahun mendatang," imbuhnya.Menyoal kebutuhan pupuk PIM I dan II, Sugiharto menjelaskan, pasokan gas tersebut dapat diambil dari pola swap dalam penjualan gas Arun ke Jepang dan Korea Selatan. Di mana dana tersebut akan digunakan untuk membeli kebutuhan gas dari Oman dan Qatar.Sugiharto menyatakan, PIM I dan II masih terus melakukan produksinya. Pemerintah akan berusaha menjamin pasokan gas tersebut untuk kebutuhan produksi pupuk di pabrik tersebut.
(san/)











































