Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 10 Jan 2018 12:32 WIB

Sudah Ada Penenggelaman, Laut RI Masih Rawan Maling Ikan

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: Dok:  Korpolairud Baharkam Polri Foto: Dok: Korpolairud Baharkam Polri
Jakarta - Penenggelaman kapal sudah berlangsung selama 3 tahun terakhir, sejak Susi Pudjiastuti didapuk sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Opsi penenggelaman kapal dilakukan untuk memberikan efek jera kepada para pencuri ikan yang selama ini telah mengeruk sumber daya laut dan perikanan Indonesia.

Penenggelaman kapal pencuri ikan sendiri diminta dihentikan karena dianggap telah membuang sumber daya kapal yang sebetulnya bisa dimanfaatkan oleh para nelayan. Namun demikian, penenggelaman kapal sendiri tak semata-mata bisa langsung menghentikan aktivitas para pencuri ikan.

Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Tarakan, Rustan mengatakan, meski jumlah kapal pencuri ikan telah berkurang, tapi sampai saat ini masih ada yang mencuri-curi kesempatan untuk masuk ke wilayah perikanan Indonesia, utamanya di perbatasan.


"Sekarang sudah mulai berkurang karena mereka (pencuri ikan) sudah pada ditangkapi. Walaupun, masih ada sih sekali-kali keluar mencuri-curi. Dari Filipina dan Malaysia, negara-negara di perbatasan," katanya saat dihubungi detikFinance, ditulis Rabu (10/1/2018).

Hal ini sesuai dengan pernyataan Koordinator Staf Khusus Satgas 115, Mas Achmad Santosa, yang beberapa waktu lalu mengatakan, bahwa kapal-kapal pencuri ikan itu masih mencoba masuk ke wilayah perairan Indonesia.

Sejumlah modus dilakukan, seperti dengan mendekati wilayah perbatasan Indonesia. Hal tersebut kata dia biasa dilakukan oleh kapal-kapal milik Papua Nugini, Timor Leste dan Vietnam.

"Modus barunya itu sekarang ini boleh dikatakan mereka (pencuri ikan) memanfaatkan border (perbatasan). PNG (Papua New Guinea), Timor Leste, yang kemarin Fu Yuan Yu (831) juga," katanya saat ditemui di Kantor KKP, Jakarta, Desember tahun lalu.

Negara-negara tersebut kata dia mencoba menembus wilayah perbatasan Indonesia yang sekiranya bisa diperdebatkan antara wilayah perairan Indonesia atau zona bebas.


"Kalau Vietnam kan ada duplikasi wilayah. Mereka mengklaim atas dasar perjanjian landas kontinen 2003. Lalu kita bilang itu ZEE, dan landas kontinen itu bukan hanya di kolam air, tapi di bawah. Artinya harus berdebat kan, ber-argue. Intinya memanfaatkan border. Jadi memanfaatkan karena wilayahnya debatable. Bisa didebatkan, masuk ke Vietnam atau Indonesia," ucapnya.

Pria yang akrab disapa Ota ini bilang, wilayah perbatasan Indonesia yang sangat luas membuat pengawasan pun perlu ditingkatkan. Pasalnya, pemerintah tak lagi memperbolehkan kapal asing atau eks asing menangkap di perairan milik Indonesia, tapi negara-negara tetangga tadi masih memperbolehkan, sehingga potensi terjadinya pencurian ikan masih terus ada.

"Jadi memang kita harus perkuat pengawalan garis batas kita. Caranya patroli. Karena laut kita luas banget. Kalau laut PNG dan Timor Leste kan kecil sekali. Dan kita juga memanfaatkan kerja sama internasional, dengan pihak Australia, AS, Norwegia, mereka kan satelit-satelitnya canggih sekali, jadi kita manfaatkan," pungkasnya.

Jadi apakah dengan dihentikannya penenggelaman kapal ini bisa membuat laut RI lebih aman dari maling ikan? Simak hasil poling detikFinance di bawah ini:

(eds/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed