Follow detikFinance
Selasa, 30 Jan 2018 13:56 WIB

Perjalanan Bisnis GoPro yang Mau Bangkrut

Moch Prima Fauzi - detikFinance
Foto: detikINET/Yudhianto Foto: detikINET/Yudhianto
Jakarta - Nasib nahas tengah menimpa perusahaan pembuat kamera aksi, GoPro. Sahamnya dilaporkan menurun hingga berujung pemecatan karyawan. Bahkan, sang CEO, Nick Woodman, kini hanya bergaji US$ 1.

[Gambas:Video 20detik]


Seperti apa GoPro pertama kali terjun ke bisnis kamera?

Nicholas Woodman atau yang lebih populer disebut Nick Woodman, pernah menjalani kegagalan sebelumnya. Ia sempat membuat bisnis website bernama EmpowerAll.com yang menjual barang-barang elektronik.

Kemudian Woodman juga gagal dalam mengelola startup bernama Funbug, yakni platform penjualan dan game yang memberikan kesempatan pada penggunanya untuk mendapat hadiah uang tunai.

Inspirasi pembuatan kamera GoPro berawal dari hobi olahraga berselancar. Mengutip halaman Forbes, Selasa (30/1/2018), tepatnya pada 2001 ia membayangkan memiliki kamera yang bisa merekam kegiatan berselancarnya namun dengan ukuran yang lebih praktis.

Ia kemudian membuat model kamera pertamanya yang digunakan untuk merekam kegiatan berselancar di Australia dan Indonesia. Setelah itu ia terpikirkan untuk membuatnya dalam skala besar.


Kamera pertama yang dibuat oleh GoPro adalah 35 mm HERO pada September 2004. Di tahun berikutnya Woodman mulai menjual beragam jenis kamera GoPro dengan peningkatan fitur seperti video pada 2007, wide angle pada 2008, hingga teknologi High Definition pada HD Hero3.

Usaha berjualan kamera aksi yang dilakukan Woodman akhirnya berbuah manis. Pada 2012, IDC melaporkan GoPro menguasai 21,5% populasi kamera perekaman digital di seluruh dunia.

Kesukesan GoPro juga didorong oleh penetrasi smartphone yang merusak pangsa pasar kamera pocket (saku) digital dan kamera perekam. Hal itulah yang dibanggakan oleh Woodman ketika produknya populer di pasaran.

"Konsumen tak lagi mengeluarkan uang untuk membeli kamera point-and-shoot (kamera saku) karena mereka telah memilikinya di smartphone," ujar Woodman kala itu.

"Jadi mereka lebih memilih mengeluarkan uang untuk membeli sesuatu seperti GoPro yang jauh berbeda dari smartphone," imbuhnya.

Dengan kesuksesannya menjual GoPro, kekayaan Woodman pada 2013 mencapai US$ 1,3 miliar Rp (17 triliun) dari nilai perusahaan saat itu sebesar US$ 2,25 miliar (Rp 301 triliun). (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed