Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 30 Jan 2018 16:04 WIB

Ada Tol Laut Harga Daging Masih Mahal, Rumah Potong: Pasokan Kurang

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: Agus Setyadi/detikcom Foto: Agus Setyadi/detikcom
Jakarta - Untuk menurunkan harga daging sapi pemerintah pusat telah melakukan upaya mulai dari impor sampai memutus rantai distribusi melalui Tol Laut yang menghubungkan antara Nusa Tenggara Timur (NTT) ke Jakarta.


Namun harga daging sapi di pasar tradisional masih stagnan di harga tinggi yaitu Rp 120.000. Direktur Utama PD Dharma Jaya yang merupakan salah satu Rumah Potong Hewan (RPH) Marina Ratna Dwi Kusumajati menjelaskan, kondisi ini terjadi karena suplai sapi hidup di Indonesia masih kurang untuk memenuhi kebutuhan konsumsi.

"Jumlahnya belum mencukupi. Produksi NTT nya masih kecil. Bukan hanya di NTT di seluruh Indonesia makanya impornya banyak," kata dia kepada detikFinance, Selasa (30/1/2018).

Tidak hanya permasalahan suplai untuk memenuhi konsumsi nasional. Namun strategi pemerintah dalam membuka keran impor daging beku juga tampaknya belum berdampak signifikan terhadap penurunan harga daging.

Jadi menurutnya, selama pemerintah tidak memperbaiki suplai sapi hidup maka harga daging sapi lokal masih akan tetap mahal.

"Satu yang ada di pasar tradisional yaitu daging yang dihasilkan dari sapi hidup yang menjadi daging kecil. Itu suplainya dari sapi hidup, ada segmen pasar yang daging beku, daging beku didatangkan dari impor. Sampai dengan hari ini dengan didatangkannya impor dari India pun tidak mempengaruhi harga daging di pasar tradisional," kata dia.

Di sisi lain, langkah pemerintah untuk membuat tol laut dikatakan Marina begitu membantu yaitu dengan hadirnya tol laut. Marina mengemukakan, biaya distribusi sapi hidup dari NTT ke Jakarta jauh lebih murah.

"Ngebantu sangat ngebantu, kalau enggak ada tol laut saya enggak mungkin jual daging yang kecil di Dharma Jaya Rp 99.500 dan kepada distributor Rp 103.000 itu kan akibat dari tolnya Pak Jokowi juga, sapi dari NTT itu harganya murah. Misalnya kalau tanpa tol laut harganya Rp 44.000/ kilogram sapi hidup kalau ada jadi Rp 41.000/ kilogram sapi hidup harga sapinya. Nah sekarang kan yang saya punya ini Rp 41.000 NTT," kata dia kepada detikFinance, Selasa (30/1/201).


Sebagai informasi mengenai tol laut, Kapal KM Camara Nusantara 1 telah diluncurkan pada 11 Desember 2015 oleh Presiden Joko Widodo sebagai kapal khusus ternak yang menghubungkan antar pulau, dan bertujuan untuk menata ulang struktur pasar sapi nasional.

Pada 2016 Kapal Ternak Camara Nusantara 1 telah beroperasi sebanyak 24 kali pelayaran sejak 2 Februari - 27 Desember 2016. Total jumlah ternak yang diangkut dari Prov. NTT sebanyak 11.767 ekor, dimuat dari Pelabuhan Tenau Kupang sebanyak 11.109 ekor ras sapi Bali dan Pelabuhan Waingapu ras sapi Sumba Ongole (SO) 658 ekor.

Saat ini PD Dharma Jaya hanya memotong sapi lokal dari NTT dengan pesanan 300 ekor per bulannya. Dari total 300 ekor hanya 60 ekor yang dipotong di RPH PD Dharma Jaya.

"NTT saja, contoh dari Bali sapi hidup sampai Jakartanya itu sudah Rp 44.000-Rp 45.000 ribu. Kemudian dari NTT kita modal sampai di Jakarta-nya itu Rp 39.900 sampai Rp 41.000. Jadi Rp 39.900 sampai Rp 41.000 itu sudah sampai di RPH Jakarta. Enggak daerah lain, karena daerah lain sapi hidupnya lebih mahal," kata dia.

Sebagi informasi, kapal yang mengangkut sapi melalui tol laut memiliki kapasitas angkut 500 ekor setiap pelayaran. Di 2018 sudah dialokasikan oleh Kementerian Perhubungan penambahan menjadi 6 unit kapal dati tingginya animo masyarakat. Pemanfaatan kapal ternak ini akan terus dievaluasi untuk perbaikan ke depan.

Sebagai benefit utama dari beroperasinya kapal ternak Camara Nusantara 1 ini, yaitu adanya perbaikan harga jual ternak di tingkat peternak serta adanya penurunan harga jual di tingkat konsumen sapi. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed