Namun, khusus untuk pertumbuhan IMK pada 2017 menjadi yang paling terendah sejak 2013 yang tumbuh 7,51%, 2014 tumbuh 4,91%, 2015 tumbuh 5,71%, dan 2016 tumbuh 5,78%.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, share terbesar terjadi pada industri IMK dari sektor industri makanan yang naik 9,20% dengan share terhadap pertumbuhan ekonomi atau PDB sebesar 30,51%. Khusus pertumbuhan produksinya di kuartal IV-2017 sebesar 4,59%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kecuk menyebutkan, pertumbuhan produksi IMK tahun 2017 berdasarkan wilayah paling tinggi terjadi di Kalimantan Utara dengan 26,87%, NTT 25,60%, Maluku Utara 21,86%, Aceh 20,99%, dan Banten 20,87%. Untuk yang tumbuh negatif terjadi di Jawa Tengah dengan -3,35%, Sumatera Barat -2,58%, NTB -0,07%, dan Sulawesi Selatan -0,01%.
Sedangkan untuk pertumbuhan IBS, BPS mencatat, laju pertumbuhan IBS pada kuartal IV-2017 tumbuh 5,15%.
"Hampir sama seperti 2015 dan 2014 bahwa industri besar dan sedang tumbuh 4,74%," kata dia.
Suhariyanto mengatakan, pertumbuhan IBS khususnya untuk industri makanan memiliki share terhadap pertumbuhan ekonomi alias produk domestik bruto (PDB) sebesar 27,09% sedangkan produksi industri makanan sendiri naik 9,93%.
"Makanya kalau ada gejolak di industri makanan memiliki pengaruh besar ke industri keseluruhan dan pertumbuhan ekonomi keseluruhan. Jadi dengan share 27,09% cukup menggembirakan naik 9,93%, diantara berbagai industri. Sementara yang negatif itu industri pengolahan lainnya yaitu turun 4,51%," tambah dia.
Jika dilihat dari wilayah, pertumbuhan produksi IBS terjadi di DKI Jakarta dengan 14,10%, Kepulauan Bangka Belitung 13,34%, Sulawesi Tenggara 9,17%, dan Gorontalo 8,96%. Sedangkan yang negatif terjadi di Aceh dengan -6,39%, Sumatera Utara -3,11%, Kepulauan Riau -2,03%, Bali -1,26%, Sumatera Barat -0,54%, dan Bengkulu -0,40%. (ara/ara)











































