Terlebih lagi nasib petani yang kerap jatuh ke tangan para tengkulak yang membeli hasil panen dengan harga murah hingga beberapa komoditas pertanian penting yang tak jarang dibanjiri produk impor.
Dua kendala yang sering dihadapi petani adalah akses ke pasar dan akses ke lembaga keuangan. Hal ini lah yang membawa perusahaan digital pertanian atau startup, Tanihub yang mencoba menjembatani dua hal tersebut dalam rangka memaksimalkan potensi besar yang dimiliki tadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ivan mengatakan, pihaknya ingin agar petani bisa terus mendapatkan kestabilan harga atas hasil panen yang telah diproduksi. Menurutnya apa yang terjadi di petani sekarang masih terjebak pada perdagangan dengan tengkulak, karena sulit pada akses keuangan untuk menjalankan usahanya sehingga harus membayar pinjaman uangnya dengan menjual hasil panen lebih murah ke tengkulak dari pada ke market.
"Baru ada sekitar 16.000 petani yang kita kerja samakan, di mana kita deal-nya ke beberapa kelompok petani. Nantinya kita perdagangkan hasil taninya untuk domestik dan ekspor. Di domestik kita juga kerja sama dengan beberapa platform seperti Blibli, dan beberapa restoran yang kita bantu mendapatkan raw materialnya langsung dari petani sehingga harganya bisa lebih murah," ujar dia.
Selain membantu dari sisi akses ke pasar lewat e-commerce, Tanihub juga membantu petani dalam akses keuangan ke perbankan. Hal ini dilakukan dengan memberikan pendampingan ke kelompok petani tadi berupa pemberian bibit, benih dan hal lainnya sehingga perbankan bisa yakin meminjamkan uangnya ke petani.
"Petani selalu pengen untung lebih. Tapi saat mau ekspansi, mereka enggak punya uang. Padahal potensinya bagus sekali. Tapi banyak perbankan enggak bisa memenuhinya. Nah kami coba jembatani. Kami support dari bibit dan lain-lain dan membuat perbankan yakin untuk kasih kredit ke petani lewat pendampingan dari kami. Makanya kita punya sistem bagi hasil untuk menjembatani perbankan menyiapkan KUR-nya," ungkap Ivan.
Dengan usaha yang telah dilakukan Tanihub, saat ini beberapa komoditas pertanian telah berhasil diekspor lewat Tanihub. Meski nilai ekspornya telah mencapai Rp 3-5 miliar sebulan, namun hal tersebut dianggap belum cukup besar jika melihat potensi yang ada. Untuk itu dia berharap pemerintah bisa memberikan dukungan berupa promosi atau mempertemukan mereka ke pasar yang lebih besar lagi.
"Yang kami harapkan adalah channeling. Yang kami lakukan selama ini baru cari sendiri buyer-buyer-nya. Karena buyer-buyer ini tidak akan percaya penjual dari Indonesia kalau tidak ada rekomendasi. Dan rekomendasi itu paling dipercaya kalau dari government. Karena kami jalankan sendiri saja sudah lumayan, apalagi kalau bisa didukung," pungkasnya. (eds/ara)











































