Pertamina: Stok BBM Kritis
Senin, 20 Jun 2005 12:03 WIB
Jakarta - Pertamina mengakui stok BBM saat ini masih kritis yakni hanya cukup untuk 17,5 hari, dari wajarnya untuk 20 hari. Untuk itu, Pertamina akan mempercepat pembongkaran BBM agar stok bisa meningkat menjadi 20,5 hari. Demikian Dirut Pertamina Widya Purnama saat rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (20/6/2005). Hadir dalam kesempatan itu, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro. Dari keseluruhan jenis BBM, premium paling kritis yakni hanya cukup untuk 12,7 hari, solar untuk 14,5 hari. Sementara untuk minyak tanah stok cukup aman, yakni untuk 25,3 hari. "Kalau minyak tanah, kita jamin tidak akan ada kelangkaan," tegas Widya Purnama.Menurut Widya Purnama, kritisnya stok itu tak lepas dari telatnya pengucuran dana subsidi BBM dari pemerintah. "Uang turun tanggal 13 Juni jam tiga sore sebanyak Rp 4,2 triliun," ungkapnya. Dengan cairnya dana subsidi itu, Pertamina berharap bisa meningkatkan stok menjadi 20,5 hari. Widya juga mengungkapkan, Pertamina akan berupaya mempercepat pembongkaran 2 juta barel BBM untuk mengamankan stok. Pertamina akan mengupayakan pembongkaran yang biasanya memakan waktu 2 minggu, dipercepat selama 10 hari, sehingga pada tanggal 25 Juni mendatang stok BBM sudah bisa aman. "Kalau ingin mengembalikan stok menjadi 22 hari, perlu dana cukup besar sekitar US$ 1,3-1,5 miliar," ungkap Widya. Saat ini di Teluk Semangka, Lampung, masih ada 1,2 juta barel solar, premium juga yang menanti untuk dibongkar. Disebutkan pula, selama kuartal-I 2005, penggunaan premium terjadi kelebihan hingga 2,7 persen dari kuota, solar 2 persen dari kuota dan minyak tanah melebihi 2,5 persen dari kuota. "Saya sudah instruksikan kepada unit pemasaran Pertamina bahwa di kota-kota besar jangan sampai ada kelangkaan. Lalu kita jatah karena kita tidak ingin stok turun terlalu drastis," tegas Widya Purnama.
(qom/)











































