Follow detikFinance
Selasa, 06 Feb 2018 11:08 WIB

Hubungan Ekonomi Makro dan Asmat di Sindiran Sri Mulyani

Dana Aditiasari - detikFinance
Foto: dok. pemda Foto: dok. pemda
Jakarta - Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati sempat melontarkan sindiran soal kartu kuning yang diberikan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI Zaadit Taqwa pada acara Dies Natalis ke 68 UI pada Jumat lalu.

Dalam sindirannya, Sri Mulyani menyebut agar mahasiswa yang bersangkutan terlebih dahulu belajar soal ekonomi makro sebelum mengkritisi kejadian luar biasa (KLB) campak yang terjadi di Kabupaten Asmat, Papua.


Apa sih hubungannya makro ekonomi dengan asmat?

Sebelum jauh membahas hubungan dua hal tersebut, terlebih dahulu kita pahami soal apa itu ekonomi makro?

Ekonomi makro atau yang biasa juga disebut dengan istilah makroekonomi adalah studi tentang ekonomi secara menyeluruh. Ekonomi makro menggambarkan berbagai aspek ekonomi yang mempengaruhi banyak masyarakat, kegiatan usaha, dan pasar.

Dalam konteks Indonesia, ekonomi makro melingkupi pendapatan hingga alokasi belanja negara termasuk berbagai kondisi yang mempengaruhinya seperti kondisi ekonomi mitra dagang, perubahan nilai tukar Rupiah hingga kenaikan harga komoditas seperti minyak, gas, batubara, minyak sawit dan lainnya.


Lalu apa hubungan makro ekonomi dengan asmat?

Dalam konteks KLB Campak dan gizi buruk di Asmat, aspek yang mempengaruhi tak semata minimnya intervensi kesehatan dan akses pangan di lokasi tersebut.

Lebih dari itu, ada aspek lain yang perlu diperhatikan salah satunya ketersediaan infrastruktur dasar seperti jalan akses dari kota pusat ekonomi terdekat dengan Kabupaten Asmat.

Kurang tersedianya jalan, membuat warga di pedalaman RI, contohnya seperti warga di Kabupaten Asmat menjadi sulit mencapai pusat pelayanan kesehatan dan fasilitas penunjang lainnya.

Bayangkan saja, bila warga di perkotaan seperti Jakarta bisa melakukan perjalanan dari rumah ke puskesmas hingga sekolah yang berjarak 10 km kurang dari 15 menit menggunakan angkutan kota atau ojek. Warga di pedalaman bisa menempuh perjalanan sekitar 1 hingga 2 jam berjalan kaki menembus hutan lantaran tak memiliki akses jalan yang bisa dilalui kendaraan.

Perkara pembangunan jalan di wilayah-wilayah baru apa lagi di wilayah-wilayah terdalam seperti Asmat sangat dipengaruhi kesiapan anggaran yang dikelola pemerintah.

Mengingat alokasi anggaran yang diperlukan tentu tidak sedikit untuk membiayai seluruh proses dari mulai survey penentuan lokasi, pembukaan akses bakal jalan yang semula tertutup hutan atau terhalang bukit hingga pemadatan dan pengerasan struktur jalan.

Di sisi lain, ekonomi RI secara makro dihadapkan pada tantangan keterbatasan anggaran yang timbul akibat besarnya beban utang jatuh tempo yang sudah diakumulasi dari pemerintah periode sebelumnya.

Belum lagi target penerimaan negara dari pajak yang tak mencapai target nyaris setiap tahunnya. Belum lagi ada alokasi subsidi yang harus diberikan pemerintah untuk warga rentan atau warga miskin dalam berbagai bentuk seperti subsidi listrik, subsidi BBM jenis solar dan premium.

Tak hanya itu, ekonomi RI secara makro juga tengah dihadapkan pada tantangan ekonomi global. Lesunya ekonomi negara mitra dagang RI membuat volume dan nilai ekspor produk-produk RI kurang bergairah yang pada akhirnya mempengaruhi pendapatan negara yang harusnya bisa didapat dari devisa hasil ekspor.


Dari kaca mata ini baru bisa tergambar bagaimana makro ekonomi sangat erat hubungannya dengan kondisi wilayah-wilayah pedalaman seperti di Kabupaten Asmat.

"Kalau sudah dapat pengantar makro ekonomi baru demo ya. Kalau belum terus demonya salah itu malu-maluin, jangan bilang pernah diajar saya," kata Sri Mulyani saat mengisi kuliah perdana untuk mata kuliah Pengantar Teori Ekonomi Makro di Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia.

Di tengah keterbatasan tersebut, nyatanya pemerintah tak berpangku tangan. Berbagai pembangunan infrastruktur dasar dilakukan di berbagai wilayah untuk membuka isolasi yang selama ini dialami warga di wilayah terdalam, terluar dan terdepan.

Salah satunya membuka akses menuju Kabupaten Asmat lewat jalan Trans Papua. Ruas jalan Trans Papua itu adalah Wamena-Mamugu sepanjang 284,3 kilometer (km) dan Kenyam-Dekai 167 km.

Selain itu, untuk membuka keterisoliran wilayah, Kementerian PUPR bekerjasama dengan Zeni TNI AD, kini tengah melakukan pembangunan dan preservasi ruas Kenyam-Batas Batu sebagai jalan nasional terdekat dari Kabupaten Asmat.

Tujuannya tak lain untuk memudahkan masyarakat memperoleh akses kesehatan hingga pendidikan. (dna/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed