Sugiharto: Stok BBM Tak Kritis

Sugiharto: Stok BBM Tak Kritis

- detikFinance
Selasa, 21 Jun 2005 12:05 WIB
Jakarta - Meneg BUMN Sugiharto menepis pernyataan Dirut Pertamina Widya Purnama yang menyatakan stok BBM kritis dan hanya cukup untuk 17,5 hari. "Sebetulnya ini soal uang, bukan stok, karena BBM-nya sudah ada," tegas Sugiharto.Menurut Sugiharto, BBM itu saat ini sudah ada di Indonesia dan hanya tinggal menunggu didaratkan di Teluk Semangka, Lampung. "Jadi tidak perlu dikhawatirkan," tegas Sugiharto usai peluncuran perusahaan joint venture antara Garuda Indonesia dan Lufthansa System di Graha Niaga, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (21/6/2005).Sugiharto mengakui, saat ini memang ada ketidakcocokan antara waktu permintaan dana dengan pengucuran dana, ada selisih beberapa hari. Namun ia menegaskan, permasalahan dana yang dialami Pertamina selama ini lebih karena masalah prosedural. "Departemen Keuangan tidak bisa disalahkan. Saya kira akan dibangun koordinasi yang lebih kuat lagi antara Pertamina dan Depkeu," tambahnya.Pihaknya juga telah menggelar pertemuan dengan direksi Pertamina pada hari ini. Berdasarkan pertemuan itu, Sugiharto memastikan pasokan BBM akan kembali ke level aman di atas 20 hari pada tanggal 24 atau 25 Juni mendatang. Review Angka Subsidi BBMSugiharto juga menyampaikan, pemerintah tidak akan mengabulkan begitu saja permintaan tambahan subsidi BBM untuk Pertamina. Angka-angka subsidi baik volume maupun harga harus direview terlebih dahulu sebelum dilakukan perubahan. "Kalau menyimpang dari angka-angka yang sudah diputuskan, perlu dilakukan penelaahan yang mendalam. Jadi tidak terima begitu saja permintaan dari Pertamina. Mereka harus internal audit dulu," tegas Sugiharto.Stok BBM tengah krisis, hanya untuk 17,5 hari. Dirut Pertamina Widya Purnama mengatakan, untuk mengamankan stok BBM menjadi 22 hari, maka diperlukan dana hingga US$ 1,2 hingga 1,3 miliar.Mengingat harga minyak dunia yang sekarang mencapai mendekati level US$ 60 per barel, menurut Sugiharto perlu ada sejumlah penyesuaian asumsi harga minyak dalam APBN-P yang dipatok US$ 45 per barel. "Harus ada adjustment yang dikeluarkan," tandas Sugiharto. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads