Menteri ESDM Bantah Terjadi Krisis Energi di Indonesia
Jumat, 24 Jun 2005 04:16 WIB
Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro membantah upaya penghematan nasional yang diintruksikan presiden menandakan Indonesia tengah dilanda krisis energi."Terlalu berlebihan bila dikatakan kita krisis energi. Hanya masalah tingkat korporat. Pertamina butuh cash lebih banyak untuk beli minyak," ujar Purnomo usai rapat kabinet, di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (23/6/2005) malam.Kesulitan operasional Pertamina membeli minyak disebabkan kelambatan pencairan tambahan modal kerja dari Departemen Keuangan. Akibatnya cadangan BBM nasional menyusut dari 22 hari menjadi 17,2 hari. Tidak aneh bila di beberapa daerah terjadi kelangkaan BBM.Penghematan nasional yang digelar dalam waktu dekat, diperlukan untuk menyiasati keterbatasan modal Pertamina. Terlebih hingga sekarang belum ada indikasi harga minyak dunia akan menurun, seiring kebijakan OPEC menambah kuota produksi negara-negara anggotanya. Bahkan ada kecenderungan semakin naik hingga akhir tahun ini. "Tapi masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan. Masalah ini tidak mempengaruhi ekonomi makro nasional," tambah mantan Sekjen OPEC ini.Purnomo yakin seluruh rakyat Indonesia akan menyukseskan program penghematan nasional. Ia mencontohkan kasus tie in di PLTGU Muara Karang dan Tanjung Priok. Saat itu sempat khawatir akan terjadi pengurangan daya 400 MW. Tetapi pemadaman bergilir tidak perlu dilaksanakan, karena ternyata masyarakat mengikuti imbauan pemerintah agar setiap keluarga mengurangi pemakaian listrik sebesar 50 watt."Sebenarnya masyarakat kita bisa melakukan langkah-langkah penghematan," tuturnya.Lebih lajut, Purnomo mengatakan selaku produsen minyak, sebenarnya kenaikan harga minyak dunia membawa berkah bagi Indonesia. Yakni meningkatnya pendapatan negara dari ekspor minyak dan gas."Memang di sisi lain subsidi dan alokasi ke daerah juga membengkak. Tapi ingat ada penambahan pendapatan. Balance ini yang kita lihat dampaknya bagi ekonomi makro. Dan tampaknya kita masih bisa menangani," tambah Purnomo.
(mar/)











































