Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 23 Feb 2018 08:11 WIB

Cerita Menhub Ditagih Gubernur Bangun Rel KA di Kalteng

Muhammad Idris - detikFinance
Foto: Muhammad Idris Foto: Muhammad Idris
Palangka Raya - Kereta api beserta relnya bisa jadi merupakan barang yang paling diinginkan masyarakat di Kalimantan. Wajar saja, mengingat sejak merdeka, belum pernah sekalipun daratan paling luas di Indonesia tersebut tersentuh pembangunan kereta api.

Saat bertandang ke Palangka Raya, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, bahkan mengaku langsung ditodong Gubernur Kalteng Sugianto Sabran, terkait rencana pembangunan rel saat baru mendarat di Bandara Tjilik Riwut. Gubernur juga menyuarakan semangatnya terkait kesiapan wilayahnya jadi ibu kota baru.

"Kalau bicara kereta api, salah satu (tujuan) saya datang ke sini mau diskusi sama Pak Gubernur. Pak Gubernur punya daerah, saya yang punya policy (kebijakan), saya pikir kalau ada kereta api di sini kan bagus sekali," kata Budi di sela-sela kunjungannya ke Kalteng, Kamis (22/2/2018).

Menurutnya, pembangunan kereta api di Borneo sendiri masih menghadapi beberapa kendala, salah satunya investor yang akan mendanai proyek tersebut. Di Kalimantan, hitung-hitungan ekonomis bisa menguntungkan jika dipakai untuk mengangkut batu bara.

Kendati begitu, proses pembangunan jalur kereta saat ini masih berada di tangan Pemprov Kalteng dan calon investor. Dia memastikan, Kemenhub bakal mempermudah regulasi untuk percepatan transportasi berbasis rel tersebut.

"Kereta api semuanya harus sesuai dengan ketentuan, baik ketentuan di pusat atau di sini. Jadi saya persilakan investornya bicara dulu dengan Pak Gubernur, kalau sudah matang nanti baru sama saya, kalau bisa cepat saya support," tutur Budi.

Mantan Dirut Angkasa Pura II ini berujar, pemerintah pusat masih berkomitmen melanjutkan proyek kereta api di Kalimantan. Saat ini, pembicaraan rencana pembangunan lintasan KA terus digodok.

"Kalau niat saya mau diteruskan, segala masalah kalau dibicarakan bersama bisa jalan. Kan pikiran banyak orang kan banyak. Dulu kan ada banyak beda-beda pendapat, pokoknya pusat dengan daerah harus kompak," pungkas Budi. (idr/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed