Follow detikFinance
Jumat, 23 Feb 2018 13:25 WIB

Ini Alasan Pemerintah Tambah Utang Negara

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Saat ini total utang pemerintah pusat per Januari 2018 mencapai Rp 3.958,66 atau mendekati Rp 4.000 triliun. Namun saat ini pemerintah berencana menambah utang lagi senilai Rp 30 triliun.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Luky Alfirman mengatakan pada dasarnya alasan pemerintah untuk menambah utang bukan terbentuk atas secara seketika. Namun telah direncanakan sebelumnya.

"Utang itu kita nggak ujug-ujug bikin utang. Sudah ada rencananya membiayai defisit tahun ini Rp 250 triliun," katanya di Gesung BEI, Jakarta, Jumat (22/2/2018).

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa utang merupakan bagian dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Maka, ia menilai kehadiran defisit berkaitan dengan utang.

"Kan gini, utang itu produk dari APBN maksudnya penerimaan belanja selisihnya itu ada defisit. Itu dari mana defisitnya? Ya dari utang, dari penerbitan SBN tadi," imbuhnya.

Adapun penambahan utang tersebut dilakukan pemerintah dengan menerbitkan empat instrument, yakni ORI, SBM, saving bond ritel, dan sukuk tabungan.

Sementara itu, ia juga menilai penerbitan surat utang tersebut masih sesuai harapan. Pasalnya hingga Januari pihaknya telah memperoleh Rp 20 triliun dari penerbitan surat utang.

"Masih on track kita masih kita kan defisit kurang lebih Rp 250 triliun itu kan kita bagi 12 bulan. So far Januari sudah Rp 20 triliun nettonya jadi saya pikir masih on track," pungkasnya. (eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed