Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 23 Feb 2018 17:31 WIB

Pengangguran di Inggris Makin Banyak Setelah 'Cerai' dengan Uni Eropa

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Foto: REUTERS/Phil Noble Foto: REUTERS/Phil Noble
Jakarta - Jumlah pengangguran di Inggris meningkat 4,4%. Bertambahnya jumlah pengangguran juga diikuti dengan depresiasi nilai tukar poundsterling 0,6%.

Selama tiga bulan sampai Desember, 46.000 orang bertambah menjadi pengangguran. Kenaikan jumlah pengangguran ini merupakan yang tertinggi sejak 2013. Kini, jumlah pengangguran di Inggris sebanyak 1,47 juta angkatan kerja.

Meski jumlah pengangguran bertambah, persentase pengangguran di Inggris tetap 0,15 atau di atas level terendahnya dalam beberapa dekade.

Pertumbuhan ekonomi Inggris juga melambat di tahun lalu. Perlambatan ekonomi Inggris salah satunya disebabkan ketidakpastian hubungan dagang pasca keluar dari Uni Eropa.

Pada saat bersamaan, perusahaan Inggris terus menciptakan lapangan kerja baru. Ada 823.000 lowongan dalam tiga bulan sampai Januari 2018, 70.000 lebih banyak daripada pada saat yang sama tahun lalu.

"Jumlah lowongan pekerjaan yang banyak kosong bukan disebabkan oleh tidak tersedianya tenaga kerja yang pas, tetapi karena pertumbuhan ekonomi tidak mampu menciptakan banyak lapangan kerja," ujar Kepala Ekonom KPMG Yael Sefin dikutip dari CNN Money, Jumat (23/2/2018).

Laporan terbaru merilis bahwa standar hidup di Inggris masih terpuruk. Inflasi tercatat sebesar 3% pada Desember dan Januari sedangkan upah tumbuh 2,5%, ini lebih buruk dibandingkan tahun lalu.

Sejumlah ekonom mengatakan penurunan upah riil pekerja dikarenakan keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa. Depresiasi Poundsterling juga ikut menaikkan biaya impor.

Iklim usaha di Inggris semakin mengkhawatirkan karena Brexit dan belum jelasnya transisi keluarnya Inggris dari Uni Eropa yang merupakan pasar ekspor terbesarnya.

"Saya tidak bisa menekankan pentingnya kesepakatan transisi," ujar Kepala Asosiasi Industri Manufaktur Inggris Judith Hackitt.

Skenario terburuk, di mana Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan perdagangan baru, dapat menghilangkan puluhan ribu pekerjaan.

Sektor keuangan bisa kehilangan 75.000 pekerjaan jika tidak ada kesepakatan, menurut perusahaan konsultan Oliver Wyman.

Jepang memperingatkan bulan lalu bahwa perbankan, industri otomotif dan perusahaan lainnya bisa keluar dari Inggris jika keputusan Brexit berjalan buruk.

Berdasarkan data tenaga kerja menunjukkan ada 901.000 orang yang bekerja kontrak. Jumlah tersebut bertambah 20.000 dari Juni 2017. (ara/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed