Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 27 Feb 2018 13:15 WIB

Teknologi Digital Jadi Strategi Utama Sektor Perbankan di 2018

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Jakarta - Kondisi di sektor perbankan dalam negeri pada 2018 ini dinilai relatif sama dengan tahun sebelumnya. Tren optimisme yang berhati-hati di kalangan bankir dalam negeri juga terjadi di 2018.

Demikian diungkapkan survey perbankan 2018 yang dirilis oleh PwC Indonesia di Hotel JW Marriot, Jakarta, Selasa (27/2/2018).

Financial Service Leader PwC Indonesia David Wake mengatakan teknologi menjadi prospek utama dalam sektor perbankan tahun ini. Berdasarkan hasil survey, teknologi masih menjadi penggerak transformasi usaha nomor satu, dan risiko terbesar bagi industri.

"Kami memperhatikan adanya keterkaitan yang kuat antara kejelasan strategi digital dan sejauh mana responden merasa banknya siap untuk menghadapi masa depan," kata David di lokasi.

Dari hasil survei, kata David, mengungkapkan bahwa sebagian besar bank mengarahkan belanja teknologinya pada bagian depan situs web yang interaktif (front-end web)/aplikasi (app)/sistem-sistem perbankan elektronik.

Dalam survei itu juga tercatat bahwa ponsel dan internet untuk pertama kalinya mengambil alih posisi puncak sebagai jalur transaksi nasabah. Peralihan ke platform ponsel dan internet ini cukup signifikan di Indonesia.

Padahal, baru tiga tahun yang lalu 75% bankir memperkirakan bahwa lebih dari separuh transaksinya dilakukan melalui kantor cabang konvensional, kini angka ini turun menjadi 34%, sedangkan tren bertransaksi di jalur digital naik menjadi 35%.

Dalam hal strategi digital, bank-bank asing dan BUMN merasa bahwa strategi digital mereka sangat jelas, dibandingkan dengan hanya 21% dari semua responden lainnya, yang menunjukkan bahwa masih ada ruang di seluruh sektor perbankan untuk memperbaiki strategi.

Bank-bank plat merah adalah yang paling optimistis dengan kondisi tahun 2018, dan ini tercermin dalam rencana-rencana ekspansi mereka 67% dari bank BUMN akan memperbanyak baik kantor cabang maupun karyawannya, sedangkan hampir tidak ada yang mengindikasikan rencana pengurangan apa pun. Sebaliknya, separuh responden dari bank-bank asing memperkirakan adanya pengurangan jumlah kantor cabang, dan hanya 12% yang memperkirakan adanya penambahan.

"Ada sejumlah alasan mengapa bank dapat menggunakan strategi yang berbeda-beda dalam mengembangkan jaringan kantor fisiknya, pengetahuan tentang pasar, wilayah, atau basis nasabah setempat pasar umum vs pasar spesifik. Akan tetapi, ada strategi-strategi yang sangat jelas berbeda sedang berkembang saat ini, strategi-strategi yang terus mendorong pertumbuhan dengan ekspansi cabang, dan yang berusaha menggunakan jalur-jalur digital dan otomatisasi untuk bertumbuh, dengan jejak ekspansi jaringan kantor fisik yang lebih rendah," tuturnya. (zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com