Sara Lee Tutup Pabrik di Prancis

Alihkan Produk ke RI & Afsel

Sara Lee Tutup Pabrik di Prancis

- detikFinance
Sabtu, 25 Jun 2005 15:38 WIB
Jakarta - Perusahaan asal Amerika Serikat Sara Lee memutuskan menutup pabriknya di Prancis yang memproduksi alat-alat rumah tangga dan produk perawatan badan. Sara Lee akan memindahkan produksinya itu ke pabrik yang ada di Indonesia dan Afrika Selatan.Penutupan pabrik tersebut terutama karena berkurangnya permintaan di pasar Eropa. Sara Lee juga harus bersaing ketat dengan produk-produk sejenis yang memberikan potongan harga kepada pembelinya.Produk-produk Sara Lee yang dikenal di pasar internasional di antaranya pakaian dalam merk Hanes, roti dan kue-kue merk Sara Lee, kopi merk Douwe Egberts dan semir sepatu merk Kiwi.Pabrik Sara Lee di Prancis berlokasi di Pont-Audemer. Pada tahap pertama perusahaan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sebanyak 137 karyawan. "Sara Lee harus mengantisipasi melemahnya permintaan atas pasar produk-produk konsumsi," demikian pernyataan perusahaan yang berkantor pusat di Chicago AS itu seperti dikutip Reuters, Sabtu (25/6/2005). Selain karena harus bersaing dengan toko-toko yang menjual barangnya dengan potongan harga, Sara Lee juga melihat tingkat konsumsi masyarakat Eropa yang mulai tidak bersemangat.Setelah penutupan pabrik efektif, Sara Lee akan langsung mengalihkan produksinya di Indonesia dan Afrika Selatan yang biaya produksinya dinilai lebih baik, apalagi perusahaan juga akan mengadopsi kebutuhan pasar di negara tersebut.Perusahaan akan memberikan kesempatan dengan penawaran lahan dan pembangunan pabrik secara gratis kepada rekanan yang tertarik bergabung agar bisnis perusahaan terus berjalan. Penawaran terutama ditujukan kepada seluruh pegawai atau beberapa staf perusahaan.Sara Lee menjelaskan, kompetisi harga yang semakin agresif dan melambatnya permintaan produk perawatan sepatu di Eropa bagian barat telah dialami perseroan selama lima tahun terakhir.Berita penutupan pabrik Sara Lee tersebut semakin menambah pekerjaan pemerintah Prancis yang saat ini sedang memerangi pengangguran yang mencapai 10,2 persen. Tingginya angka pengangguran menjadi perhatian warga Prancis yang memilih untuk tidak menyetujui referendum konstitusi Eropa yang diinginkan pemerintah. (ir/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads